Beranda Refleksi Bertarekat Itu Keren Bagi yang Menikmatinya

Bertarekat Itu Keren Bagi yang Menikmatinya

Tanggal : Pukul :
279
0
KH. Hendra Zainuddin. M.Pd.I*
KH. Hendra Zainuddin. M.Pd.I*

Bagi orang yang belum mengikuti ajaran tareket tentu bertanya, apa itu tarekat?. Mengapa orang harus bertarekat dan apa nikmatnya bertarekat? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk dijawab. Sebab berkaitan dengan “rasa”, hati atau dalam bahasa kaum sufi disebut “dzauq” (pengalaman batin). 


Berbeda halnya dengan orang yang telah mengikuti atau mengamalkan ajaran tarekat. Ketika ia mengamalkan ajaran tarekat memiliki rasa nikmat, kebahagiaan dan ketentraman dalam dirinya. Bahkan, kesempurnaan bertarekat seseorang ditandai kalau ia bisa merasakan bahwa bertarekat itu nikmat. Karenanya, ia akan mengesampingkan segala kenikmatan duniawi untuk mencapai kenikmatan tersebut.

Kenikmatan bertarekat merupakan buah dari keimanan yang menancap kuat dalam dirinya melalui media dzikrullah (mengingat Allah SWT) sebagai inti bertarekat.

Dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, misalnya, dzikrullah merupakan media yang diyakini paling efektif dan efisien untuk menghantarkan pengamalnya kepada tujuan tertinggi, yakni Allah SWT.

Dalam surat ar-Ra’d ayat 28, Allah SWT berfirman,”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Dalam kitabnya berjudul Al-Wabil ash-Shayyib, Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa di antara faidah dzikir adalah dapat mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, dan kelapangan bagi orang yang melakukannya, serta dapat melahirkan ketenangan dan ketenteraman di dalam hati orang yang melakukannya.

Baca Juga :   Musnahkan BB, Kajari OKU Timur Sebut Kejahatan Curat, Curas dan Curanmor di OKU Timur Menurun

Makna firman Allah “dan hati mereka tenteram” adalah hilangnya segala sesuatu (yang berkaitan dengan) kegelisahan dan kegundahan dari dalam hati.

Dan dzikir tersebut akan menggantikannya dengan rasa kenikmatan, keharmonisan (ketentraman), kebahagiaan, dan kelapangan.

Selanjutnya, yang maksud dalam firman-Nya “hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” adalah sudah nyata, dan sudah sepantasnya hati (manusia) tidak akan pernah merasakan ketentraman, kecuali dengan dzikir (mengingat) Allah SWT.

Bahkan, sesungguhnya dzikir adalah penghidup hati yang hakiki. Dzikir merupakan makanan pokok bagi hati dan ruh.

Apabila (jiwa) seseorang kehilangan dzikir ini, maka ia hanya bagaikan seonggok jasad yang jiwanya telah kehilangan makanan pokoknya.

Sehingga tidak ada kehidupan yang hakiki bagi sebuah hati, melainkan dengan dzikrullah (mengingat Allah).

Jelaslah sesungguhnya tidak ada penawar bagi orang yang hatinya gersang dan selalu gelisah, resah, dan gundah, melainkan hanya dengan dzikrullah.

Dzikrullah inilah yang menjadi inti ajaran tarekat, khususnya tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Inti Tarekat Dzikrullah Namun di era modern atau globalisasi saat ini terkadang tidak sedikit kaum Muslimin yang belum memahami hal ini.

Baca Juga :   Belum Ada Kepastian Babak 32 Besar, Sriwijaya FC Libur Panjang

Bahkan, untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, justru mencari-cari solusi dengan mendatangi tempat hiburan malam, minum-minuman keras hingga mengkonsumsi narkoba dan main perempuan.

Keutamaan Bertarekat

*Kualitas zikir seorang salik itu berbanding 1 : 1000 dengan yang belum bertarekat.

*Bertarekat itu memudahkan ajal dengan Khusnul khatimah karena kebiasaan akhir hayat adalah apa yang sering diucapkan/zikir tarekat.

*Minimal bisa merasakan nikmatnya sholat (orang yang sholat tapi tidak bisa menghadirkan hati akan ditertawakan oleh syaitan/hadist) 

*Syaitan sulit mendekat/atau mempengaruh/mengelabui. Karena syehk Abdul Qodir Al Jailani pernah berkata: “Barangsiapa menganggu murid2ku (tarekat Qodiriyah karena mengambil dari nama beliau) maka akan aku persiapkan pedang yg terhunus sampai hari qiyamat,”

*Instink bisa merasakan mana yang Haq dan mana yg bathil, mana ulama Krn Alloh mana ulama suuk.

*Ketaqwaannya biasanya diturun anak cucunya.

*Tidak takut miskin, tidak mudah sombong, tidak mudah susah, tdk mudah tergoda dan takabur karena mampu menaklukkan egonya.

*Nafsu terkendali. Nafsu itu seperti kuda liar, kalau mampu menaklukkan kuda liar maka akan menjadi kuda tunggangan yang mahal harganya.


*Penulis adalah Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dan Pimpinan/Pengasuh Pesantren Aulia Cendekia Talang Jambe Palembang

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here