Detik
Oleh : Dian Eka Sari, S.Pd.

Apakah Kita Memang “Malas” Membaca?

Hari Aksara Internasional (HAI) diperingati setiap tanggal 08 September. Tahun ini peringatan Hari Aksara diadakan ketika pandemi Covid-19 tengah melanda hampir semua negara yang ada, tak terkecuali di Indonesia. Lantas pada peringatan ini, jika kita refleksi, apakah kita sudah terbebas dari buta aksara?


Berbicara tentang aksara, tentu tidak terlepas dari membaca. Literasi dasar baca tulis serta literasi numerasi hingga saat ini seolah masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan kerja sama dari semua pihak agar bisa menanggulanginya. Peringkat Indonesia untuk literasi baca tulis dan numerasi berdasarkan data yang dikeluarkan oleh PISA masih berada di urutan bawah.  Selain itu, dalam sebuah webinar tentang asesmen kemampuan minimal (AKM), salah seorang narasumber mengungkapkan bahwa sampai saat ini anak Indonesia memang malas membaca teks.

Berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, nilai yang didapatkan masih rendah. Namun, khusus teks deskripsi, nilainya tinggi. Inilah realita yang terjadi saat ini.

Jika kita kembali saat ini dimana pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau dalam jaringan, tidakkah ini akan berpengaruh pada kemauan dan kemampuan anak dalam membaca? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Namun, berdasarkan beberapa bulan pembelajaran secara daring harus diakui anak-anak kita memang “malas” membaca dan menyimak. Hal ini berdasarkan pengamatan selama pembelajaran daring berlangsung sejak Maret hingga Agustus 2020. Kemalasan untuk membaca ini bisa diamati ketika proses pembelajaran berlangsung. Lebih dari separuh siswa akan bertanya kembali tentang hal atau materi yang dijelaskan sebelumnya atau mereka malas untuk membaca pembicaraan sebelumnya yang ada di grup kelas. Hal ini juga terjadi ketika akan mengerjakan tugas atau soal yang diberikan. Meski sudah dituliskan langkah-langkah untuk mengerjakan soal, masih banyak peserta didik yang bertanya kapan langkah apa yang akan mereka lakukan untuk menyelesaikan tugas hingga bertanya jadwal pengumpulan tugas. Kebiasaan para peserta didik ini cukup menyulitkan guru atau wali kelas. Untuk menyampaikan informasi saja, guru harus mengulang-ulang informasi yang diberikan akan bisa ditangkap oleh semua peserta didik.

Baca Juga :   AirNav Indonesia Pantau Pergerakan Kabut Asap Demi Keselamatan Penerbangan

Kemalasan ini juga terjadi pada keterampilan menyimak. Meski gurunya sudah membuat video pembelajaran menarik agar bisa memenuhi gaya belajar anak kinestetik, audio, dan visual, tapi masih banyak peserta didik yang bertanya apa yang harus mereka lakukan. Terkadang, peserta didik hanya menunggu tugas lalu mengerjakan tugas yang diberikan tanpa menyimak materi yang disampaikan gurunya. Akibatnya antara materi dan jawaban peserta didik tidak nyambung, sehingga otomatis nilai yang didapatkan peserta didik di bawah rata-rata.

Uniknya, kemalasan ini tidak hanya terjadi pada peserta didik. Melainkan gurunya juga ketika menjadi peserta dalam pelatihan daring. Dari beberapa pelatihan yang pernah diikuti, apa yang dilakukan peserta didik ternyata juga dilakukan gurunya. Akibatnya, narasumber dan panitia harus berkali-kali menjelaskan atau ada juga yang mengingatkan dengan teguran “literasi membaca” bapak/ibu. Dengan kata lain, perubahan pola belajar ini memang menuntut keterampilan membaca dan menyimak yang baik dari para peserta.

Baca Juga :   Kodam II / Sriwijaya Terus Buru dan Sebar Foto Prada DP

Pada sisi lain, pembelajaran daring ini juga memberikan umpan balik kepada kepada guru baik secara langsung maupun tidak langsung. Selama ini peserta didik cukup “dimanjakan” oleh gurunya dengan menyediakan apa yang mereka butuhkan. Ketika peserta didik ada yang tidak menyimak materi, guru kembali menjelaskannya tanpa mengajak si anak untuk mempelajari dulu baru menyampaikan pertanyaan. Atau ketika pembelajaran tatap muka berlangsung, peserta didik yang tidak menyimak atau malas membaca tinggal bertanya saja dengan teman di sebelahnya. Namun, saat itu hal ini hal itu tidak bisa dilakukan.

Pembelajaran daring ini memang membutuhkan kesadaran, kemauan, dan kemandirian peserta. Baik itu peserta didik maupun guru ketika menjadi peserta dalam diklat (pendidikan dan latihan) daring. Dengan tuntutan kemandirian inilah, diharapkan peserta didik mulai mau membaca buku dan bahan ajar lainnya, tidak hanya bergantung dan berharap dapat contekan dari teman. Sehingga melalui refleksi Hari Aksara Internasional ini, budaya membaca menjadi budaya keseharian kita sama seperti kebutuhan makan dan minum.


Penulis : Dian Eka Sari, S.Pd. | SMP Negeri 54 Palembang

H. Hendri Zainuddin, Manager Sriwijaya FC

About Raam

Raam

Check Also

Susuri Sungai Musi, Lanal Palembang Bagikan Sembako dan Masker

Palembang, Detik Sumsel — Dengan menggunakan kapal cepat, personel TNI AL Lanal Palembang menyusuri perairan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *