KPU Sumatera Selatan

Akademi Komunitas di Tengah Sumsel?

0
80
Akademi Komunitas di Tengah Sumsel? - Agus Wahid
Akademi Komunitas di Tengah Sumsel? - Agus Wahid

RELATIF masih terbatas. Hanya sekitar 6,05% prosentasenya. Itulah tingkat partisipasi pendidikan masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) di jenjang perguruan tinggi. Sungguh memprihatinkan. Sementara, tingkat tuntas pendidikan idealnya haruslah sampai ke perguruan tinggi. Agar jauh lebih mumpuni. Kini, bagaimana mengatasi problem keterbatasan untuk mencapai jenjang perguruan tinggi? Di sanalah kita saksikan, pasangan ASRI memiliki konsep yang perlu kita telisik lebih rinci. Untuk kepentingan pendidikan kalangan masyarakat Sumsel.

Tak dapat disangkal, untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi diperlukan sejumlah kondisi. Di samping keinginan kuat atau cita-cita, juga daya dukung ekonomi keluarga. Dan hal ini berarti, problem keterbatasan ekonomi yang melilit keluarganya menjadi faktor yang mengakibatkan sejumlah lulusan SLTA di Sumsel akhirnya memutuskan tidak melanjutkan studinya ke perguruan tinggi.

Terkait dengan persoalan itu, sesungguhnya Pemerintah – sejak 2015 lalu – sudah ada skim bagaimana memfasilitasi kepentingan para lulusan SLTA agar menikmati alam perguruan tinggi. Akademi Komunitas itulah jenjang pendidikan tinggi yang sudah diamanatkan UU Pendidikan Nasional, meski hanya berlevel Diploma 1 – 3.

Baca Juga :   Bekali Anak dengan Karakter Positif Sejak Dini

Akademi Komunitas dirancang sebagai lembaga pendidikan vokasi atau kejuruan. Levelnya setingkat di atas jenjang SLTA. Arah dari kebijakan ini adalah mencetak tenaga-tenaga terampil yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan obyektif wilayah setempat. Dalam hal ini seluruh Pemerintahan Daerah dituntut untuk menterjemahkan UU Vokasi dalam rangka menyerap keinginan atau kebutuhan pendidikan masyarakat daerah.

Dengan arah Akademi Komunitas itu, maka Sumsel bisa mendesain program studi yang sesuai dengan karakter lokalnya, apakah terkait dengan sumber daya alam, atau lainnya. Yang jelas, Akademi Komunitas bisa dijadikan arena untuk meningkatkan kompetensi, sekaligus meniti lebih jauh untuk membangun proses kesejahteraan dirinya.

Kini, BPS Sumsel mencatat, ada sekitar 60,37% lulusan SLTA yang tersebar luas di wilayah Sumsel. Dengan atau atas nama mengejar kompetensi, maka para lulusan SLTA itu bisa diarahkan untuk memasuki Akademi Komunitas yang dinilai lebih sederhana dan lebih prospektif. Daripada tidak mampu memasuki perguruan tinggi strata 1, maka Akademi Komunitas menjadi solusi yang sungguh menjanjikan.

Bagi Aswari-Irwansyah yang bervisi-misi “pendidikan tuntas-berkualitas”, maka Akademi Komunitas akan menjadi program unggulan yang perlu digelar di setiap kabupaten dan atau kota. Dan hal itu pasti menjadi desain kebijakan Pemerintah Provinsi Sumsel jika ASRI mendapat amanah di tengah Sumsel itu.

Baca Juga :   Evaluasi PON XIX: Antara Prestasi, Pentas dan Pembinaan di Sumsel

Modalnya utamanya hanyalah komitmen kuat atau kemauan politik pro pendidikan. Sementara, sebagai amanat UU, Akademi Komunitas itu sudah diback up APBN, terkait pengadaan lahan, biaya pembangunan sarana dan prasarana, juga biaya operasionalnya. Tinggal melakukan studi kelayakan, proses penyiapan dan pelaksanaan. Karenanya, bagi pasangan No. Urut 2, upaya merealisasikan Akademi Komunitas menjadi bagian dari program utama, di samping porgram-program lainnya seputar pendidikan.

Sikap politik pro pendidikan itu bagaimanapun perlu kita catat sebagai kejelian menangkap amanat UU itu. Kejelian seperti itulah yang sangat diperlukan bagi sosok pemimpin. Karena itu, Sumsel yang kini banyak diperhadapkan sejumlah keterbatasan termasuk dunia pedidikan, maka sosok Aswari-Irwansyah memang layak kita antarkan ke panggng Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel. Monggo tentukan sikap kito galo dalam mewujudkan cita-cita bersama masyarakat Sumsel.

Penulis adalah analis pembangunan wilayah dari Cyber House Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here