Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Liputan Khusus 175 Ribu Pemuda di Sumsel Kerjanya Makan dan Tidur

175 Ribu Pemuda di Sumsel Kerjanya Makan dan Tidur

Tanggal : Pukul :
1094
0
Ilustrasi Grafis (Raam/Detik Sumsel)

Lipsus, Detik Sumsel- Tahapan seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2018 masih terus bergulir. Khusus Sumsel, tercatat pelamar untuk semua kabupaten dan kota yang membuka formasi mencapai 86.399 peserta.

Nyatanya, jumlah peserta ini hanya separuh dari jumlah pengangguran yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumsel di tahun 2018.

Tercatat hingga Februari 2018, ada 175 ribu warga Sumsel yang tidak memiliki pekerjaan. Jumlah itu meningkat hingga 14 ribu jiwa sejak Februari 2017 yang hanya terdapat 161 ribu pengangguran.

BPS mencatat, jumlah penduduk usia produktif (15-46 tahun) di Sumsel mencapai 4,37 juta jiwa. Artinya, lebih dari 4 persen penduduk Sumsel tidak memiliki mata pencaharian.Hal ini sangat disayangkan, di tengah pesatnya perkembangan Sumsel beberapa tahun terakhir, rupanya tak mampu menyerap tenaga kerja lokal.

Kurangnya skill hingga tak adanya posisi pekerjaan yang sesuai dengan ijazah, membuat Reza (31), seorang warga Palembang masih menganggur hingga saat ini.”Selama menunggu mendapatkan pekerjaan, ya kerjanya hanya makan dan tidur. Kalau ada info lamaran baru masuk lamaran ke perusahaan-perusahaan swasta,” ungkap pada Detik Sumsel.

Baca Juga :   Guru Keluhkan 'Pembekuan' Dana Sertifikasi 10 Persen

Menurutnya, kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan salah satu faktornya, yakni karena masih sedikitnya perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan dan membutuhkan jurusan pendidikan yang ia tempuh.

“Kalau saat melamar pekerjaan yang dibutuhkan masih sangat sedikit, sementara saingan banyak dan pelamar lainnya banyak juga yang dari luar Sumsel,” ungkapnya.

Senada diungkapkan Fahmi (23) yang sejak lulus kuliah pada Desember tahun lalu, belum mendapatkan pekerjaan. Padahal, ia merupakan lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Sumsel.

“Mungkin salah pilih jurusan pas kuliah, jadi sekarang lamaran saya belum ada yang gol. Gak enak lah ya nganggur, mau minta uang sama orang tua malu, tapi kalau tidak minta dapat dari mana,” ucapnya.

Baca Juga :   KAI Sudah Layani Pemesan Tiket

Ia tidak menyalahkan siapapun, tetapi ia menilai kondisi di Sumsel agak kurang berpihak pada tenaga kerja lokal. Karena yang ia temukan, banyaknya pekerja di Sumsel, khususnya Palembang yang ternyata berasal dari Jawa.

“Ya mungkin karena rekrutmen nasional, jadi dapat penempatan di Palembang. Tapi ya, kita yang warga Palembang asli, seolah tak berguna. Sekarang sih lagi nunggu tes CPNS, semoga lah rejeki nya disini,” ungkapnya.

Sementara itu, Adam Reynaldi (24), pemuda yang baru tamat kuliah ini mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan di perusahaan. Pasalnya, beberapa perusahaan yang membuka lamaran seringkali mengharuskan pelamar yang sudah berpengalaman.

“Sementara saya baru tamat kuliah, pihak perusahaan meminta pelamar yang sudah penagalaman di bidangnya, ini yang membuat saya kerap kali kesulitan mendapatkan pekerjaan karena baru tamat kuliah ini,” pungkasnya. (Fir)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here