Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Pendidikan 10 November, Simbol Tertinggi Idealisme Rakyat

10 November, Simbol Tertinggi Idealisme Rakyat

Tanggal : Pukul :
1597
0
Direktur Center For Political and Devlopment Studies Teras Indonesia, Haekal Haffafah

Palembang, Detik Sumsel– Berbeda dengan proklamasi, peristiwa 10 November merupakan peristiwa yang tidak hanya melibatkan kalangan terpelajar dan mereka yang terkemuka saja, melainkan pernyataaan keras bahwa hari pahlawan adalah pengakuan tentang Negara Indonesia yang keberadaannya mutlak harus dipertahankan.

Direktur Center For Political and Devlopment Studies Teras Indonesia, Haekal Haffafah menyampaikan, “Kalau Proklamasi adalah peristiwa elit karena menyangkut keterlibatan kalangan terpelajar dan mereka yang terkemuka saja, sementara Hari Pahlawan adalah peristiwa massa karena melibatkan perjuangan massa yang besar dan rakyat banyak” kata Haekal kepada detiksumsel, Sabtu (9/11).

Haekal mengatakan, 10 November 1945 adalah perang pertama Indonesia (tentara dan milisi pro kemerdekaan) melawan pasukan asing (tentara britania raya dan india britania) hal ini menjadi pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional.

“Pada saat itu antusiasme rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan sedang berada pada tingkat idealisme tertinggi” tutur Haekal.

Lima bulan sebelumnya, dalam pidato sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 yang kemudian diberi nama Lahirnya Pancasila, Soekarno sepenuhnya menyetujui pendapat Ernest Renan bahwa unsur utama terbentuknya sebuah bangsa adalah “ le desir d’etre ensemble’ artinya kehendak untuk bersatu.

“Berbeda dari cita-cita Jerman yang berdasarkan unsur primordial, pembentukan bangsa Indonesia lahir dari dorongan kuat untuk mempersatukan diri” ungkap Haekal.

Lebih jauh 10 November adalah klimaks dari serangkaian konflik bersenjata yang terjadi dikota Surabaya saat itu tentara sekutu diberi tugas untuk melucuti senjata Jepang guna mengembalikan status quo ke keadaan sebelum perang Pasifik. Dalam suasana inilah segala sesuatu dirumuskan dengan kata Merdeka dan Berontak.

Jika membaca lebih lanjut, setelah melalui perang dan diplomasi selama empat setengah tahun, kedaulatan negara didapatkan dan Republik Indonesia Serikat berdiri, proses kearah terwujud kembali NKRI segera terjadi.

“Dalam masa empat tahun, pada 1950 melalui mosi integral nasir yang terkenal itu semua negara bagian dilebur kembali kedalam Negara Republik Indonesia” Ungkapnya.

Pemerhati Politik Sumsel ini menjelaskan, dari sini kita bisa lihat bagaimana visi kalangan terpelajar mendapatkan dukungan dari massa, pada saat bersamaan cita-cita nasionalisme yang menginginkan, indentifikasi bangsa dan negara terwujud dalam perilaku yang membuahkan pengorbanan.

“10 November tidak bisa dilihat sekedar slogan romantisme retoris saja, kitapun perlu menundukan kepala sambil berdoa, Alangkah mahalnya harga yang harus dibayar untuk tetap bisa bertahan menjadi bangsa yang merdeka” Pungkasnya. (Ril)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here