Beranda Refleksi YA SAMMAN, SIAPA DIA?

YA SAMMAN, SIAPA DIA?

Tanggal : Pukul :
673
0
YA SAMMAN, SIAPA DIA? - Dr. Muhammad Adil, M.A.
YA SAMMAN, SIAPA DIA? - Dr. Muhammad Adil, M.A.

KATA “Ya Samman” dalam masyarakat kita merupakan ungkapan yang sejak dahulu hingga sekarang sangat akrab dengan keseharian kita. Mungkin saja kita pernah mengalaminya langsung, baik disengaja, maupun tidak. Misalnya ketika seorang dalam keadaan kaget, terkejut, terperanjat, atau ketika para orangtua mengingatkan anak-anak mereka yang sedikit bandel—sedang dalam kondisi kesal—selalu menyebut kata “Ya Samman” ini.

Bahkan, sampai kisah orang yang sedang dalam kesusah mencari “bini” (istri) pun sering mengucapkan kata “Ya Samman”. Ungkapan ini pula kemudian menginspirasi Kamsul Arifuddin Harla seorang budayawan dan pencipta lagu asal Kota Palembang merasa perlu merangkainya melalui syair lagu Melayu beri judul “Ya Saman”. Kini, lagu tersebut menuai berkah laris manis di belantika musik Nusantara, dan sempat menjadi pengantar ketika pembukaan perhelatan akbar Sea Games 2011 lalu dan juga menjadi salah satu lagu pengiring HUT Kemerdekaan RI ke-71 di Istana Negara belan Agustus lalu. Sebagian bait lagunya: “Ay…ya…ya…ya… Ya Saman, Pecaknyo mudah tapi saro nian, Ay…ya…ya…ya… Ya Saman, Nyari bini yang bener-bener setolok an, Ay…ya…ya…ya… Ya Saman, Ya Saman Ya Saman Ya Saman”.

Ketika diwawancarai oleh Salah satu Media Nasional beberapa waktu yang lalu, Kamsul Arifuddin Harla menyebutkan bahwa “Ya Saman” yang menjadi judul lagunya dimaksudkan kepada Syeikh Muhammad Samman. Boleh jadi, yang dia maksudkan adalah supaya orang yang sedang kesusahan mencari calon istri—melalui washilah (perantara) kepada Syeikh Muhammad Samman—dapat dimudahkan dengan sesering mungkin menyebut kata “Ya Samman”.

Kata “Ya Samman” seolah memang mempunyai kekuatan magis yang dapat membatu orang-orang yang sedang berada dalam kesusahan. Dengan menyebutkan kata “Ya Samman”—atas izin Tuhan—lalu mereka seakan mendapat energi baru sehingga dapat lepas dari jeratan kesusahan. Meskipun keyakinan seperti ini sudah berlangsung sejak lama, akan tetapi mampu bertahan sampai sekarang. Kondisi ini tentu saja bukan tanpa alasan. Dalam Manaqib Muhammad Samman memang ada disebutkan bahwa: “Barangsiapa yang menyerukan/menyebut aku “Ya Samman” sebanyak tiga kali ketika yang bersangkutan sedang dalam kesusahan, niscaya aku akan datang menolongnya.” Hal inilah kemudian menjadi keyakinan banyak orang dan masih diyakini hingga sekarang.

Baca Juga :   Politik Islam Suatu Keharusan

Tidak ada data sejarah yang valid tentang kapan pertama kali ungkapan seperti ini mulai digunakan oleh masyarakat Nusantara, termasuk masyarakat Sumatera Selatan. Dalam praktiknya, pada banyak kampung di pedesaan atau di perkotaan yang tersebar di kabupaten/kota Propinsi Sumatera Selatan, dari dahulu sampai sekarang, kalau ada orang mau menghajatkan sesuatu yang agak istimewa, biasanya mereka bernazar. Misalnya saja “kalau nanti anaknya mendapatkan pekerjaan/lulus PNS, maka dia akan mengundang para tetangga untuk membaca “haul”. Bacaan haul yang dimaksudkan adalah membaca Manaqib Syeikh Muhammad Samman. Untuk beberapa desa di Kabupaten Muara Enim (dan daerah lain) misalnya, memang tidak sedikit orang yang pandai—beberapa di antara mereka sangat hapal—membaca teks Manaqib Muhammad Samman.

Berbagai cerita dan petikan lagu di atas tentu saja menggelitik benak kita, sebenarnya siapa Muhammad Samman itu? Kok, namanya disebut-sebut oleh seantero masyarakat Nusantara mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan beberapa negeri bagian Malaysia seperti Kedah, Trenggano, Perlis, Perak, bahkan sampai Pattani di Thailand.

Syeikh Muhammad Samman dan Peran Gerakan Ruhaniahnya

Studi Martin van Bruinessen (1995) seperti dikutip Mal An Abdullah dalam bukunya: “Sejak Sejarah Abdussoman al-Palimbani” (2013) menyebutkan bahwa Dia memiliki nama lengkap Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani al-Madani al-Qadiri al-Quraisyi. Memang, dijajaran ulama kelas dunia, dia dikenal sebagai orang sufi yang alim (mumpuni) dan zuhud (mementingkan urusan akhirat daripada dunia). Dia juga adalah seorang fakih, ahli hadits, dan sejarawan pada masanya. Dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 1132H/1718M, berasal dari keturunan suku Quraisy.

Sebagai seorang sufi, tentu saja dia memiliki banyak guru yang telah mengajarinya tentang tasawuf yang sebenarnya. Dia belajar tasawuf dan berguru kepada Mustafa bin Kamaluddin al-Bakri, pengarang produktif dan Syeikh tarekat Khalwatiyah dari Damaskus yang pernah menetap di Madinah dan wafat di Kairo pada 1749M. Sebagai seorang fakih, paling tidak ada lima nama gurunya yang semuanya adalah ulama fikih terkenal pada masanya seperti: Muhammad al-Daqqaq, Sayyid Ali al-Aththar, Ali al-Kurdi, Abdul Wahhab Tantawi (di Makkah), dan Sa’id Hilal al-Makki.

Baca Juga :   KPU Sumsel dan Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pilkada Serentak 2018

Dia dianggap oleh para sejarawan sebagai pendiri tarekat Sammaniah. Namun demikian, dalam perjalanannya, tarekat Sammaniyah tidak setenar tarekat Naqsabandiyah dan tarekat lainnya. Kondisi ini menurut Mal An Abdullah bahwa dalam berbagai karya Muhammad Samman dan Para Muridnya seperti dalam karya-karya Abdussomad al-Palimbani hanya menyebut silsilah kepada rangkaian guru-guru tareqat Khalwatiyah dengan dimulai dari al-Bakri sehingga tarekat Sammaniyah sering dianggap sebagai cabang dari tarekat Khalwatiyah. Padahal menurutnya, Muhammad Samman juga memasuki tarekat Naqsabandiyah dan tarekat Qadiriyah. Hal ini terlihat dari orang-orang yang sezaman dengannya sering menyebut dirinya dengan Muhammad bin Abdul karim al-Qadiri al-Sammani.

Dibandingkan dengan tarekat Naqsabandiyah dan Qidiriyah, tarekat Sammaniyah mengajarkan perpaduan teknik-teknik dzikir, bacaan lain, dan ajaran metefikisika dengan beberapa tambahan seperti qashidah dan bacaan lain susunannya sendiri. Karena improvisasinya inilah kemudian tarekat ini lebih dikenal dengan nama baru  “tarekat Sammaniyah”

Meskipun banyak tarekat yang berkembang di Nusantara, tarekat Sammaniyah hadir memiliki pengikut yang juga sangat banyak dan bervariasi jumlahnya. Hal ini disebabkan karena pendirinya adalah kuncen (juru kunci) dan penjaga pintu makam Nabi di masjid Nabawi Madinah. Dengan kedudukannya ini, hampir dapat dipastikan bahwa dia biasa menerima berbagai macam tamu yang datang dari berbagai penjuru dunia dan umum mereka datang untuk berguru kepadanya.

Muridnya dari Nusantara atara lain: Muhammad Arsyad al-Banjari (Banjar), Abul Abbas Ahmad at-Tijani (pendiri tarekat Tijani), Abdussamad al-Palimbani (Palembang), Abdul Wahab Bugis (menantu Muhammad Arsyad al-Banjari), Abdurrahman al-Batawi (kakek Mufti Betawi dari pihak ibu Habib Utsman Betawi), dan Daud al-Fathani dari Thailand.

Untuk wilayah Palembang dan sekitarnya, tarekat Sammaniyah tentu saja diperkenalkan oleh Syeikh Abdussamad al-Palimbani melalui murid-muridnya yang datang ke Haramayn untuk melaksanakan ibadah haji atau juga menuntut ilmu agama dari Palembang. Menjadi wajar jika kemudian tarekat Sammaniyah sangat terkenal di Sumatera Selatan, dan bahkan sebagian ajarannya sudah menjadi tradisi budaya dan keyakinan yang hidup dalam masyarakat hingga sekarang, bahkan, telah menginspirasi banyak orang.[*]

Penulis Adalah Penggiat Kajian Melayu Nusantara dan Dosen UIN Raden Fatah.

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here