Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Kesehatan Waspada Penyakit Fimosis pada Anak, Kenali Penyebabnya

Waspada Penyakit Fimosis pada Anak, Kenali Penyebabnya

Tanggal : Pukul :
686
0

Palembang, Detik Sumsel – Fimosis adalah suatu keadaan dimana kulit penutup kepala penis (prepusium) tidak dapat ditarik ke arah belakang, dimana normalnya kulit tersebut bisa ditarik ke belakang dengan mudah.

Fimosis sering terjadi pada anak laki-laki. Jika kulit prepusium tidak dipotong (tidak disunat/tidak disirkumsisi) biasanya kulit tersebut akan melekat ke kepala penis. Normalnya kulit prepusium akan terpisah dari kepala penis setelah anak berusia di atas dua tahun.

Menurut dr Rahmita, SpB salah seorang Dokter Spesialis Bedah Umum di Rumah Sakit Pelabuhan Palembang (RSPP), Fimosis ini sendiri bisa disebabkan dari berbagai macam hal. Diantaranya penyebab fimosis antara lain, infeksi pada kulit prepusium, trauma pada kulit prepusium, membersihkan prepusium anak dengan kasar, pada anak dengan infeksi saluran kemih berulang.

“Tanda dan gejala Fimosis biasanya terdapat tanda dan gejala, yaitu merah atau bengkak pada kulit prepusium ujung penis menggelembung seperti balon waktu anak Buang Air Kecil (BAK), bahkan bila tertutup total anak tidak bisa BAK,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, sulit prepusium tidak bisa ditarik seluruhnya ke belakang ketika anak berusia 3 tahun atau lebih.

“Ada sekret tebal di bawah kulit prepusium kepala penis tampak kemerahan dan terdapat benjolan lunak di ujung penis, biasa berwarna putih yang merupakan smegma (sel-sel mukosa prepusium dan kepala penis yang menumpuk),” jelasnya.

Lebih lanjut Rahmita menjelaskan ada beberapa terapi Fimosis pada kasus yang ringan dapat diterapi dengan salep steroid selama 4-8 minggu sambil menarik kulit prepusium pelan-pelan. Namun, pada kasus yang berat diperlukan tindakan sirkumsisi.

“Sirkumsisi adalah tindakan bedah untuk membuang kulit prepusium. Indikasi sirkumsisi adalah pada fimosis dengan jaringan parut, fimosis yang menyebabkan infeksi berulang pada kulit penis dan saluran kemih, juga pada fimosis yang menyebabkan gangguan BAK. Selain itu sirkumsisi juga dilakukan untuk alasan kesehatan dan agama. Insidensi kanker penis lebih tinggi pada pasien yang tidak disirkumsisi,” bebernya.

Masih kata Mita, sebelum tindakan sirkumsisi dokter akan memeriksa dahulu apakah terdapat kontra indikasi sirkumsisi seperti, gangguan jantung/paru/pembekuan darah Infeksi aktif pada kulit prepusium atau kepala penis Kelainan bawaan pada penis (misal muara saluran kemih tidak di ujung penis tapi di batang penis/kondisi hipospadia).

“Tindakan sirkumsisi dilakukan dengan pembiusan baik lokal ataupun umum sesuai kondisi pasien. Dilakukan pemotongan kulit prepusium lalu lapisan kulit dibawah kepala penis akan dijahit dengan kulit diatasnya. Penyembuhan luka dalam keadaan normal, yaitu sekitar 3-6 hari,” pungkasnya. (Bra)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here