Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Virtual Leadership

Virtual Leadership

Tanggal : Pukul :
835
0
Virtual Leadership - Mu’izzuddin
Virtual Leadership - Mu’izzuddin

Memaknai Kemajuan dan Kepemimpinan

GLOBALISASI teknologi, work-life balance, dan outsourcing menyebabkan perubahan paradigma dalam melakukan suatu pekerjaan. Cascio & Shurygailo (2003) menjelaskan bahwa dengan perkembangan yang begitu cepat khususnya dalam teknologi memungkinkan suatu pekerjaan dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, baik ruang nyata ataupun menggunakan teknologi.

Perubahan yang terjadi juga menyebabkan permasalahan organisasi lebih dinamis dan kompleks sehingga memunculkan tantangan yang kompetitif dengan berbagai alternatif lingkungan kerja organisasi, baik tradisional (face to face) maupun virtual. Tentunya tidak mengherankan, selain memberikan permasalahan dan tantangan, perubahan tersebut juga memberikan peluang bagi organisasi untuk dapat melakukan evolusi, adaptasi keahlian dan keterampilan teknologi. Organisasi memanfaatkan berbagai peluang tersebut untuk mencapai tujuan dan sasaran, akuisisi sumber daya, mempertahankan kelangsungan hidup bahkan melakukan perluasan aktivitas organisasi (ekspansi).

Berbagai peluang tersebut tentu akan menciptakan konteks baru dalam kepemimpinan organisasional seperti pola hubungan leader-member yang face to face ke era virtual/ digital, tentunya hal ini mengharuskan adanya adaptasi kepemimpinan untuk menciptakan pemimpin yang bertransformasi, memiliki keunggulan komparatif, kompetitif, adaptif dan digitalisasi.

Konteks baru kepemimpinan tersebut dipahami sebagai kepemimpinan virtual yang didefinisikan sebagai sebuah proses pengaruh sosial yang dimediasi oleh teknologi informasi yang canggih untuk menghasilkan perubahan sikap, perasaan, pemikiran, perilaku, dan/ atau kinerja individu, dengan kelompok, dan/ atau organisasi (Avolio, Kahai, & Dodge, 2001: 617). Seorang pemimpin dalam konteks ini harus memiliki kemampuan dan komitmen dalam mendayakan kemajuan teknologi informasi dalam pemecahan masalah, merumuskan visi dan misi yang berorientasi pada pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi serta membangun partisipasi aktif anggota organisasi dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam konteks aktivitas organisasi. Beberapa contoh teknologi informasi yang dapat digunakan antara lain: (1) video conference; (2) e-learning; (3) digitalisasi laporan; (4) intranet; dan (5) berbagai aplikasi e-office penunjang, dan lainnya.

Baca Juga :   Masih Adakah Berobat Gratis

Pemimpin harus memainkan peran yang lebih proaktif dalam menciptakan struktur sosial yang mendorong pelaksanaan organisasi berbasis teknologi informasi, secara khusus, salah satu tantangan utama pemimpin adalah bagaimana secara optimal mengintegrasikan sistem teknologi, manusia dan informasi dalam organisasi mereka untuk sepenuhnya memahami konteks baru organisasi. Untuk itu dibutuhkan kompetensi pemimpin virtual dalam memahami bagaimana peran pemimpin virtual berbeda dari pemimpin tradisional.

Harapan atas kepemimpinan virtual

Tujuan kepemimpinan pada konteks ini tidak berubah dan masih pada dasar yang sama dalam pencapaian visi, arahan, motivasi, inspirasi, dan kepercayaan organisasi. Perbedaan yang mendasar bahwa pemimpin virtual mungkin lebih sedikit interaksinya terhadap anggota organisasinya. Namun, hal tersebut memberikan harapan yang menarik untuk implementasi berbagai strategi kepemimpinan antara lain: (1) kemampuan untuk langsung berkomunikasi one-on-one dengan berpotensi ribuan karyawan; (2) kemampuan untuk menggunakan talenta; (3) kesempatan untuk meningkatkan kinerja organisasi melalui tim yang multi-fungsional; dan (4) kemampuan untuk menargetkan kepuasan pelanggan yang lebih baik; (4) kemampuan memotong biaya; dan (5) lingkup manajemen pengetahuan yang lebih baik.

Baca Juga :   Selamat Datang Tahun Politik

Kepemimpinan virtual terdiri dari atas dua elemen dasar teknologi dan kepemimpinan, situasi yang tidak sempurna terjadi jika salah satu elemen meningkat, namun pada elemen lainnya mengalami penurunan, maka tentu yang ideal adalah keseimbangan antara kedua elemen tersebut sehingga menciptkan kepemimpinan yang baik. Keberhasilan organisasi tentunya menjadi harapan dari setiap konteks kepemimpinan ini, maka berbagai kompetensi dan strategi kepemimpin harus dimiliki.

Kompetensi kepemimpinan virtual mencakup kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai peran dan melaksanakannya dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan berbagai peran yang harus dilaksanakan, sedangkan strategi berkaitan dengan fokus pemimpin dalam mempertahankan kinerja yang unggul dengan menyelaraskan orang di sekitar misi dan nilai-nilai dan memberdayakan para pemimpin di semua tingkatan, sementara berkonsentrasi pada melayani pelanggan dan berkolaborasi di seluruh organisasi. Pada akhirnya konteks kepemimpinan virtual memerlukan gaya kepemimpinan yang fleksibel dan proaktif dengan berbagai prosedur yang jelas dalam komunikasi, operasional, dan cara kerja pemimpin sebagai konsekuensi atas perubahan karakteristik ideal pemimpin.

*) Dosen pada Jurusan Manajemen FE Unsri, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen FEB UGM dan Awardee Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDIDN) Kemristekdikti-LPDP

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here