Beranda Refleksi Teknologi Informasi; Bagaimana Seharusnya Melakukan Adaptasi?

Teknologi Informasi; Bagaimana Seharusnya Melakukan Adaptasi?

Tanggal : Pukul :
579
0
Teknologi Informasi; Bagaimana Seharusnya Melakukan Adaptasi - M. Eko Fitrianto SE., MSi
Teknologi Informasi; Bagaimana Seharusnya Melakukan Adaptasi - M. Eko Fitrianto SE., MSi

AWALNYA ada diskusi santai bersama rekan-rekan dosen mengenai “Profesi yang akan hilang dimasa yang akan datang”. Profesi-profesi tersebut “punah” dikarenakan berkembangnya teknologi dan informasi yang merubah landskap bisnis, sebagai contoh ketika PLN meluncurkan produk listrik prabayar, maka petugas pencatat meteran listrik otomatis tidak diperlukan, juga terjadi ketika bank menyediakan mesin CDM (Cash Deposit Money) maka peran dari Teller jadi berkurang. Beberapa profesi lain yang juga akan punah dimasa yang akan datang adalah: kasir, customer service, termasuk juga pada dunia pendidikan yaitu dosen.

Pemanfaatan teknologi informasi pada dunia pendidikan terlihat pada fasilitas e-learning. Pada banyak kasus terjadi pergeseran dimana mahasiswa tidak perlu mendatangi kampus, namun dapat melakukan kegiatan perkuliahan secara online melalui fasilitas e-learning. Fleksibilitas perkuliahan menjadi lebih tinggi dikarenakan mahasiswa dapat memilih waktu dan tempat perkuliahan. Dampaknya pada peran kampus yang bergeser menjadi EO, sehingga tidak memerlukan ruang kuliah yang besar dan banyak. Kedepan saat konten materi sudah dapat dilakukan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) maka pada saat itu peran dosen menjadi tidak dibutuhkan, persis seperti peran teller saat hadirnya mesin CDM.

Fenomena ini sebenarnya bukan fenonena baru, dunia perbankan telah lama terjadi pengurangan peran manusia dikarenakan berkembangnya teknologi. Issu ini akhir-akhir ini meledak dikarenakan fenomena transportasi online, sebutlah fenomena angkutan taksi dan ojek online. Sorotan terjadi pada isue “konvensional” vs “online”, dimana pihak angkutan konvensional merasa keberatan dengan kehadiran angkutan online dikarenakan merusak tatanan yang ada, sementara angkutan online bertahan karena kehadirannya dibutuhkan sebagai solusi transportasi masyarakat secara umum. Saat diskusi tersebut, ada pendapat tentang “Coba angkot dulu mengadopsi teknologi, pasti tidak akan demo seperti ini”.

Baca Juga :   Pilkada dan Lansia

Saat itu saya berpikir tentang, kalau angkot (saat itu) menerapkan teknologi, maka apakah akan menjadi “angkot online?”, terus apa bedanya dengan taksi online?. Atau, anggaplah angkot menjadi angkot online, berarti keluar dong dari core business-nya yaitu transportasi yang melayani rute tetap?. Jika ini dikaitkan dengan cerita tentang dosen tadi, apakah semua dosen harus beradaptasi dan beralih menjadi dosen digital?, padahal salah satu fungsi pendidikan adalah perubahan perilaku yang dapat dicapai melalui kuliah dalam bentuk klasikal (tatap muka). Maka timbul pertanyaan?, apakah harus semua bisnis melakukan adaptasi dengan teknologi, jika “Iya” bagaimana seharusnya melakukan adaptasi?.

Saya rasa kita harus sepakat satu hal, adapatasi terhadap teknologi adalah suatu keharusan, namun adaptasi dalam hal apa itu yang menjadi pertanyaan. Saya tidak sepakat jika semua harus di-teknologi-kan, karena jika hal tersebut terkait bisnis, maka yang dihadapi adalah manusia. Manusia walau bagaimanapun masih menginginkan aspek “sentuhan manusia”, yang tidak dapat diberikan oleh mesin atau robot. Adaptasi diperlukan sepanjang tidak merubah core business-nya. Jika suatu produk melayani suatu yang bukan core product-nya, maka sesungguhnya ia telah memasuki arena pertarungan baru. Sebagai contoh, anggaplah angkot konvensional melakukan transformasi menjadi angkot online, berarti ia telah memasuki arena pertarungan taksi online.

Kembali tentang dosen, core product dari profesi dosen adalah jasa layanan pendidikan, adaptasi terhadap teknologi adalah terkait dengan peningkatan layanan tersebut. Dengan teknologi, dosen dapat lebih mudah dalam meningkatkan kemampuannya serta dapat dengan mudah terhubung dengan mahasiswa. Jika kuliah dimasa yang akan datang dimaknai dengan “perkuliahan mandiri jarak jauh”, maka dosen yang adaptif adalah yang melakukan antisipasi terhadap hal tersebut. Saat ini perangkat dan fasilitas untuk menyelenggarakan “kuliah masa depan” tersebut telah tersedia dengan mudah, maka sudah seharusnya para dosen menyiapkan diri dari sekarang. Mahasiswa sebagai “konsumen” yang menikmati produk tersebut, tetap saja menginginkan “kehadiran” dosen. Mungkin untuk saat ini “kehadiran” yang dimaksud adalah perkuliahan secara klasikal, namun ke depan “kehadiran” yang dimaksud dapat berupa “sentuhan manusia” yang tidak dapat dilakukan oleh AI.

Baca Juga :   SDGs Menghilangkan Peran Perempuan Dalam Pandangan Islam

Terkait dengan transportasi konvensional dan online, saya berpendapat angkot tetap harus melakukan adaptasi terhadap teknologi namun tidak merubah core business-nya. Mungkin adaptasi teknologi dapat dilakukan dalam rangka “memanusiakan manusia” yang mana hal ini selama ini sering diabaikan oleh angkot. Secara umum penumpang angkot konvensional sering mengeluh mengenai waktu tunggu keberangkatan (ngetem). Kedepan angkot bisa saja menggunakan teknologi untuk mengetahui dimana terjadi penumpukan penumpang pada suatu lokasi maupun merancang sistem penjadwalan keberangkatan sehingga masyarakat tidak lagi mengeluh tentang angkot yang sering ngetem.

Teknologi berkembang berdasarkan kebutuhan manusia, sehingga walau bagaimanapun tidak dapat dilawan. Namun teknologi adalah sebuah sarana yang digunakan dalam rangka memudahkan kehidupan manusia. Perkembangan teknologi dapat membuat perubahan dalam banyak hal, termasuk yang dapat mengancam profesi anda. Suka atau tidak, masa itu akan tiba, dan tidak ada salahnya melakukan adaptasi dari sekarang.

Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Sriwijaya. Minat penulis adalah pada bidang marketing, riset pemasaran, pendidikan serta teknologi informasi. Dapat hubungi melalui kontak email: e.fitrianto@ymail.com

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here