Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Sudah Tepatkah Arah Qiblat Kita?

Sudah Tepatkah Arah Qiblat Kita?

Tanggal : Pukul :
473
0
Sudah Tepatkah Arah Qiblat Kita..? - H. MUHAMMAD SYUBLI, LN
Sudah Tepatkah Arah Qiblat Kita..? - H. MUHAMMAD SYUBLI, LN

Insya Allah besok, Senin tanggal 28 Mei 2018 ini tepatnya jam 16.18 WIB Hari menepatkan arah Qiblat (I) atau dengan kata lain  Rosdul Ka’bah . Pada saat itu matahari melintas tepat diatas  Ka’bah, oleh karena-nya setiap bayang-bayang matahari terhadap semua benda yang berdiri tegak pada permukaan bidang yang datar, mengarah tepat ke arah garis Kiblat.


Dikemukakan dalam satu riwayat bahwa ketika Rasulullah Saw  hijrah ke Madinah, diperintahkan oleh Allah Swt  untuk menghadap ke Baitil Maqdis di waktu sholat. Maka  gembiralah kaum Yahudi. Nabi Saw  laksanakan perintah itu beberapa belas bulan lamanya, tetapi dalam hatinya tetap ingin menghadap ke qiblatnya Nabi Ibrahim AS (Mekkah). Beliau selalu berdoa kepada Allah sambil menghadapkan muka ke langit; menantikan turunnya wahyu.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Rasulullah Saw mengutus suatu pasukan perang (termasuk di antaranya Jabir). Suatu hari gelap-gulita, mereka tidak mengetahui arah qiblat. Berkatalah sebagian dari mereka: “Kami tahu arah qiblat, yaitu arah ini (sambil menunjuk ke arah Utara)”. Mereka sholat dan mem-buat garis sesuai dengan arah mereka sholat tadi. Sebagian lainnya berkata. “Qiblat itu ini (sambil menun-juk ke arah Selatan).” Mereka sholat dan membuat garis sesuai dengan arah sholat mereka. Keesokan hari nya setelah matahari terbit, garis-garisan itu tidak menunjukkan arah qiblat yang sebenarnya.

Dalam  riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat Dari mana saja kamu keluar, maka palingkan-lah wajahmu ke arah Masjidil Harom. Dan di mana saja  kamu  berada, maka  hadapkanlah wajahmu ke arahnya” (QS.Al baqoroh 150sehubungan dengan peristiwa berikut: Ketika Nabi Saw memindahkan arah qiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, Musyrikin Mekkah berkata: “Muhammad dibingungkan oleh agamanya. Ia memindahkan arah qiblatnya ke arah qiblat kita. Ia mengetahui bahwa jalan kita lebih benar daripada jalannya. Dan ia sudah hampir masuk agama kita.” (HR Ibnu Jarir dari as-Suddi melalui sanad-sanadnya.)

Pada abad ini, beberapa pekan setelah terjadinya Gempa dan Tsunami di Jepang, tepatnya hari Jum’at, tgl.11-Maret 2011, muncul wacana yang entah dari mana sumbernya, yakni : ”Arah  Qiblat ummat Islam Indonesia bergeser lebih kurang 30 cm ke arah kanan.” Hal ini konon dipicu oleh sebuah  penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Astronomi dan dimuat di beberapa Surat Kabar sejak akhir tahun 2009 sampai awal tahun 2010 bahwa 80% masjid di Indonesia Kiblatnya salah. Benarkah?

Wacana itu membuat keresahan dikalangan kaum muslimin, dan mendapat tanggapan beragam dari ummat Islam, khususnya para pakar dan cerdik cendekiawan serta para alim ulama. Lalu dikalangan masyarakat awam  muncul tanda tanya besar, apa benar bumi ini bergeser? Apa benar arah kiblat ummat Islam bergeser gara-gara gempa dan Tsunami?  Kepulauan kita yang bergeser ataukah Jazirah Arab?

Baca Juga :   Virtual Leadership

Dan banyak lagi pertanyaan musykil dari masyarakat awam yang tidak mengerti ilmu bumi, ilmu alam dan astronomi atau apapun. Yang mereka tahu adalah suatu masjid yang bangunannya lurus tapi kok orang sholat di dalamnya agak miring ke kiri atau miring kekanan. Itukah yang namanya arah kiblat tidak tepat ataukah waktu membangun masjid itu ”jadul” orang tidak mengetahui dengan tepat arah kiblat?  Lalu pertanyaan berikutnya muncul, sahkah sholat kita jika tidak tepat mengarah ke kiblat? Apakah masjid-masjid yang arah kiblatnya salah itu harus dibongkar dan diperbaiki?

Keresahan itu juga sampai ke Majlis Ulama Indonesia  (MUI) Pusat. Untuk itu Komisi Fatwa MUI Pusat membahas masalah kiblat ini pada hari Senin tgl. 1 Februari 2010, dan mengeluarkan keputusan Fatwa No. 3 tahun 2010. Dan untuk menetralisir suasana itulah salah seorang pimpinan MUI Pusat yaitu Bpk. H. Amidhan melakukan wawancara di salah satu TV Swasta Nasional bulan April 2010 yang lalu. Dan lebih jelas lagi Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA (Almarhum/Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta /salah seorang anggota Komisi Fatwa MUI Pusat menulis dalam bukunya yang bertajuk ”Kiblat antara Bangunan dan Arah Ka’bah” Cetakan Pertama Maret 2010 berikut kutipannya;

”Sholat adalah ibadah dalam agama Islam, dan ibadah wajib mengacu kepada petunjuk Allah dan Nabi saw. Petunjuk Nabi Saw itu berupa perbuatan, perkataan, penetapan maupun sifat beliau. Dengan kata lain, beribadah wajib mengacu kepada Al qur’an dan Hadits, berikut penjelasan para ulama tentang hal itu. Termasuk petunjuk Al Qur’an dan hadits serta Ijma’ (Konsensus Ulama) dan Qiyas (Analogi). Jika kita ver- ibadah dengan tidak mengacu kepada Al Qur’an dan Hadits tidak dibenarkan dalam syari’at Islam.

Keberadaan ilmu-ilmu seperti ilmu falak (astronomi), ilmu bumi (Geografi), ilmu ukur (Geometry), dan ilmu-ilmu lainnya, tidak dapat menjadi acuan atau dalil untuk ber ibadah, melainkan hanya sebagai pem-bantu saja untuk mengetahui maksud dalil-dalil Al Qur’an dan Hadits.Yang dikhawatirkan adalah isu bahwa 80%  masjid di Indonesia salah kiblatnya itu adalah salah satu cara dari kelompok tertentu agar ummat Islam selalu berkelahi diantara sesama mereka. Karenanya, ummat Islam juga wajib mewaspadai hal itu.

Dengan keluarnya Fatwa MUI No.3 tahun 2010 itu, diharapkan masyarakat tidak ragu dan resah lagi tentang sahnya sholat mereka, dan tidak ada pula pendapat yang meng haruskan membongkar masjid-masjid di Indonesia yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Tidak usah lagi dipersoalkan apakah kita sholat menghadap ke arah Bangunan Ka’bah, ataukah menghadap ke arah Kiblat. Karena Al Qur’an sudah mengisyaratkan :

Baca Juga :   Gubernur Sumsel 2018-2023: Siapkah Menyambut Bonus Demografi?

Dari ayat  itu  para ulama empat mazhab sepakat dengan dua pendapat yakni, apabila kita dapat melihat langsung Ka’bah, maka lihat  dan hadapkanlah wajah kita ke arah Ka’bah, ini tentu saja jika kita berada di dalam Masjidil Harom sana. Tetapi bagi kita yang jauh dari Masjidil Harom, tentu saja tidak dapat melihat secara langsung fisik bangunan Masjidil Harom apalagi bentuk Ka’bahnya. Maka secara hakikat kita seakan menghadap ke arah Ka’bah atau dengan keyakinan  kita menghadap ke arah Kiblat.

Untuk tahun 2018 ini menurut Kalender ”Menara Kudus”  dan Kalender-kalender  lain, ada dua kali perjalanan Matahari dari Kutub Utara ke Kutub Selatan dan sebaliknya, yakni : Tanggal 28 Mei 2018 M Hari menepatkan arah Qiblat (I) jam 16.18 WIB. Pada saat itu matahari melintas tepat diatas Ka’bah, oleh karenanya setiap bayang-bayang matahari terhadap semua benda yang berdiri tegak pada permukaan bidang yang datar, mengarah tepat ke arah garis Kiblat.

Hari Senin   tanggal 28 Mei 2018, semoga saja pada waktu itu kita sempat menepatkan arah Qiblat ditempat kita masing-masing. Alhamdulillah jika pada saatnya hujan tidak turun dan mataharipun meman-carkan cahaya, sehingga ada bayang-bayang yang bisa ditarik ke arah kiblat. Tapi mungkin saja di daerah lain hujan turun atau cuaca mendung, sehingga hari itu belum sempat menarik garis arah kiblat.

Atau mungkin belum terlaksana sama sekali karena ketidak tahuan, kurang informasi, adanya kesibukan di hari libur itu maka masih ada kesempatan kedua  yakni: Ahad, tanggal 16 Juli 2018 M Hari menepatkan arah Qiblat (II) jam 16.25 WIB. Pada saat itu matahari melintas tepat diatas Ka’bah, oleh karenanya setiap bayang-bayang matahari  terhadap semua benda yang berdiri tegak pada per-mukaan bidang yang datar, mengarah tepat ke arah garis Kiblat  dengan kata lain  Rosdul Ka’bah.

Kalaupun misalnya pada kedua waktu itu kita tidak mendapati cahaya matahari karena mendung ataupun hujan, maka yakinkan diri kita bahwa kita tetap sah sholat dengan arah kiblat yang sudah kita jalani selama ini. Dan ini sesuai dengan Fatwa MUI No. 3 tahun 2010. Wallohu a’lam.

*Majlis Mustasyar Dewan Masjid Indonesia SUMSEL

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here