Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Peran Generasi Millenials Dalam Pergulatan Politik Di Indonesia

Peran Generasi Millenials Dalam Pergulatan Politik Di Indonesia

Tanggal : Pukul :
561
0
Peran Generasi Millenials Dalam Pergulatan Politik Di Indonesia - Bujang Efendi
Peran Generasi Millenials Dalam Pergulatan Politik Di Indonesia - Bujang Efendi

AKHIR-akhir ini, generasi millenial menjadi topik yang sedang hangat diperbincangkan oleh masyarat pada umumnya. Sehingga sebutan generasi millenials pun menjadi viral di media sosial. Pertanyaannya adalah, siapa generasi millenials itu.? Generasi millenials adalah sebutan generasi muda.

Kemudian, mengapa mereka disebutkan generasi millenials? Karena generasi ini memiliki spesial tersendiri dan berbeda dari generasi sebelumnya. Sebut saja mereka adalah generasi Y setelah generasi X. Dimana generasi Y lahir telah diperkenalkan dengan TV, handphone, dan internet. Sehingga generasi Y diharuskan untuk mengikuti arus teknologi dan informasi yang kian pesat dalam perkembangannya seakan akan sulit untuk dibendung.

Hal ini terkadangkala tak bisa kita pungkiri pengguna media sosial memiliki dampak negatif tersendiri. Hal ini berakibat pada generasi millenials (generasi Y) cendrung apatis terhadap gejala gejala sosial yang ada disekitarnya baik perkembang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Mereka lebih sibuk dalam dunianya sendiri dan hanya peduli pada pola hidup yang berkebebasan dan hedonisme. Sehingga yang penting adalah mereka bisa melakukan berbagai macam aksi dan gaya tentunya.

Kembali pada tema di atas, hari ini tentunya kita bertanya tanya, dimana peran generasi millenials dalam pergulatan politik Indonesia.? Pada hemat penulis, dalam kehidupan politik saat ini peran generasi millenials menjadi suatu kebutuhan dalam tapuk kepemimpinan. Ada beberapa hal yang tentunya bisa dilakukan oleh generasi millenials terhadap tantangan yang penulis paparkan sebelumnya agar saar peran dan fungsinya sebagai warga negara yang baik. Berikut penjelasan diantaranya:

Pertama, adanya keterbukaan. Manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, penting bagi kita memiliki sifat yang terbuka. Karan penyerapan ilmu pengetahuan berawal dari adanya keterbukaan yg menjadi wahana terjadinya harmonisasi komunikasi suatu gagasan. Ilmu pengetahuan tersebut sangat ditentukan oleh adanya sifat yang terbuka untuk berani mendengar, melihat dan membaca fenomena yang terjadi disekelilingnya. Tentunya dengan begitu, banyak hal yang kita dapatkan menjadi suatu informasi. Informasi yang ada pun tentunya dapat kita antisipasi seperti Hoax misalnya. Dengan perbanyak sumber informasi kita lebih mudah untuk melakukan filterisasi suatu informasi yang dimikiki. “Perang” di media sosial pun yang terjadi saat ini seakan akan sulit untuk luntur dalam kehidupan di dunia media sosial. Karena itu media sosial juga bisa jadi pedang yang bermata dua. Namun hal itu tergantung bagaimana kita menggunakan media sosial dengan bijak dan terhindar dari hal yang menyebarkan informasi tanpa bukti otentik.

Baca Juga :   Ramadhan Bulan Refleksi Diri, Jangan Biarkan Amalan Tergadai

Kedua, eratnya rasa kebersamaan. Kebersamaan telah menjadi karakter Indonesia. Budaya kolektif merupakan bentuk daripada perwujudan sikap yang cendrung mengutamakan kepetingan umum diatas kepentingan golongan dan individu. Indonesia merupakan negara yang majemuk tentu didalamnya terdapat berbagai macam suku, ras, agama, bahasa dan budaya. Oleh karena itu, penting bagi kita menumbuhkan, menjaga dan merawat keberagaman yang dimiliki oleh bangsa ini dengan sikap toleransi, mengutamakan perdamaian dalam memecahkan masalah, dan saling menghormati serta saling menghargai satu dengan yang lainnya tanpa pandang bulu.

Ketiga, bangun gagasan. Generasi millenials, terutama kaum terpelajar diharapkan mampu dan lebih banyak peran partisipasinya sebagai pemikir, pelopor demi sebuah pembaharuan yang nantinya akan dilaksanakan. Perannya yang strategis tentu menjadi nilai plus tersendiri untuk membangun suatu hal yang lebih baik. Namun semua itu, tak bisa kita pungkiri bahwa semua itu berawal dari gagasan, dukungan dan aksi dari semua pihak. Terkadang gagasan yang dibangun seakan akan begitu mudahnya untuk dibuat dalam suatu konsep namun sulit bahkan menjadi mahal untuk dilaksanakan.

Baca Juga :   BZ Kandidat Terkuat Menangi Pilkada Lahat

Dari ketiga hal diatas, lalu bagaimana kaitannya dengan pergulatan politik yang ada. Menurut hemat penulis ketiga hal tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan tak bisa kita pisahkan.

Bahwa dengan keterbukaan dalam pergulatan politik tentunya hal hal yang sifatnya agitasi, propaganda, black campaign seakan akan menjadi budaya dalam pertarungan politik. Karna itu generasi millenials merupakan penerus daripada tonggaknya perubahan dalam tatanan masyarakat. Ditangan merekalah masa depan bangsa sangat digantungkan. Mengenai bagaimana bentuk perubahan yang timbul tergantung pada pelaku atau individu tentunya.

Oleh karena itu, peran generasi millenials dalam keikutsertaan dalam politik seyogyanya menjadi urgensi yang harus benar benar direalisasikan. Begitu juga sama halnya dengan kebersamaan, dengan adanya berbagai macam perbedaan pandangan, pola pikir, pola sikap, pola tindakan serta pilihan politik menjadi warna tersendiri sebagai pelanginya sebuah demokrasi yang dewasa ini. Maka dengan adanya “pelangi” itulah demokrasi akan selalu dinamis dan indah. Terakhir yakni membangun suatu gagasan yang baru oleh pelaku politik. Ide gagasan yang dibangun kemudian dikemas dengan sedemikian menarik seakan akan menjadi “gula” nya dalam pemilu demi menarik perhatian publik agar bisa duduk di eksekutif maupun legislatif. Sosialisasi visi misi pelaku politik pun menjadi buming lewat spanduk, stiker, media cetak hingga media sosial.

Generasi millenials diharuskan untuk berfikir kritis dan melek politik dengan apa yang ada disekitarnya. Informasi yang didapatpun untuk tidak ditelan mentah mentah dan perlu adanya filterisasi. Semoga kita generasi millenials saat ini cerdas dalam pergulatan politik untuk selektif media informasi dan komunikasi. Waallahualambishshawab.

*Penulis adalah Lulusan Fakultas Adab UIN Raden Fatah

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here