Beranda Refleksi Palembang dalam Sejarah

Palembang dalam Sejarah

Tanggal : Pukul :
444
0
Palembang dalam Sejarah - Dudy Oskandar
Palembang dalam Sejarah - Dudy Oskandar

KOTA Palembang adalah sebuah kota yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang yang hingga kini masih menjadi misteri. Sejarah pun membuktikan Palembang banyak melahirkan pemimpin dunia yang disengani kala itu.

Palembang yang merupakan Land of Champion juga banyak mengalami pergulatan sejarah yang panjang  yang kala itu belum ada namanya seakan sengaja di tenggelamkan. Setidaknya ketika kota Palembang menjadi ibukota kerajaan Sriwijaya, sudah ada peradaban yang maju kala itu, berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia yang didirikan memang dari nol.

Dimasa lalu, kota Palembang yang pernah menjadi ibukota kerajaan bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara. Kerajaan Sriwijaya mendominasi Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9 juga membuat kota ini dikenal dengan julukan “Bumi Sriwijaya”. Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota pada tanggal 16 Juni 682 Masehi, menjadikan kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia. Di dunia Barat, kota Palembang juga dijuluki Venice of the East(“Venesia dari Timur.

Bahkan abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya telah meliputi diantaranya Sumatera, Sri Lanka, Semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina. Kekuasaan yang sangat besar ini menempatkan Sriwijaya sebagai sebuah imperium yang hebat.

Berdasarkan bukti arkeologi yang ada dan lebih banyak di Palembang membuktikan kalau Kerajaan Sriwijaya beribu kota di Palembang bukan di tempat lain. Bahkan mantan Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti memastikan kalau sekitar abad ke VII pusat kerajaan Sriwijaya ada di kota Palembang. Hal ini sekaligus membantah klaim Provinsi Jambi dan Riau yang mengatakan kalau pusat kerajaan Sriwijaya ada di Jambi dan Riau hingga saat ini.

Kerajaan Sriwijaya terbangun sejak awal IV masehi sampai abad ke VII, itu merupakan salah satu bukti kalau Kerajaan Sriwijaya membangun kerajaannya di tempat yang sudah maju (kota Palembang), bahkan dari Berita Cina sebelum Kerjaan Sriwijaya  muncul sudah ada kerajaan Kantoli yang berdiri di kawasan sekitar Palembang.

Fakta tersebut di dukung dengan bukti-bukti arkeologi tentang keberadaan kerajaan Sriwijaya muncul di abad ke V dan Abad VI dan lebih banyak di Sumsel daripada daerah lain terutama di Karang Agung Tengah, Muba  dan Air Sugihan, Banyuasin sementara di pantai Timur Jambi tidak ditemukan.

Uniknya dalam perjalanannya peradaban di Karang Agung Tengah, Muba  muncul sejak abad  IV dan abad V saja selesai tidak ada kelanjutan sedangkan peradaban di Air Sugihan terus berlanjut terlihat dari keramik yang ditemukan , dari awal masehi terus terus ditemukan keramik abad X, abad XI dan Abad XII zamannya kerajaan Sriwijaya .

Baca Juga :   Merawat Keutuhan NKRI, Menebar Islam Damai

Belum diketahui kenapa peradaban di Karang Agung Tengah berhenti sebelum munculnya Kerajaan Sriwijaya , entah apakah pindah atau karena apa namun uniknya baru ada lagi di Karang Agung Ilir masuk wilayah Banyuasin tapi sudah masuk zaman Kesultanan Palembang Darusalam karena ditemukan keramik zaman Ching, zaman Ming yang lebih muda tapi sudah terputus dan tidak ada hubungannya.

Cikal Bakal Melayu

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik.

Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka di Semenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

“Kalau Hikayat melayu menceritakan kalau dari Bukit Siguntang telah melahirkan raja-raja melayu, jadi masih mengakui mereka, jadi dianggap tualah peradaban di Palembang , ini salah satu cara kita untuk memperkuat kalau pada abad VII pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Palembang lalu pindah , kepindahan pusat Kerajaan Sriwijaya awal abad ke XI salah satunya adanya serangan dari Raja Cola Mandala dari India, ada berita Cina kalau Sriwijaya pindah ke Jambi, tapi bukan berarti pusat Kerajaan Sriwijaya pindah mengakibatkan Palembang kosong tidak ada beradaban, tetap terus peradaban di Palembang, mungkin secara politik aja, malahan di sekitar Bukit Siguntang dan Karang Anyar terus ditemukan peninggalan kerajaan Sriwijaya,” kata mantan Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti beberapa waktu lalu. Fakta-fakta ini memastikan sejarah Kerajaan Sriwijaya lebih panjang dan lebih lama dibandingkan Kerajaan yang ada di Pulau Jawa seperti Mataram, Majapahit dan sebagainya.

Berbicara mengenai asal usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara.

Pada abad ke-17 kota Palembang menjadi ibukota Kesultanan Palembang Darussalam yang diproklamirkan oleh Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (atau lebih dikenal Kimas Hindi/Kimas Cinde) sebagai sultan pertama (1643-1651), terlepas dari pengaruh kerajaan Mataram (Jawa).

Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama. Kemudian kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16 Februari 1942. Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI.

Baca Juga :   Panggung Milik Paslon Akbar-Hernoe

Berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A. Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 948, Palembang dijadikan Kota Besar. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang.

Minim Sejarah Palembang

Hingga kini baik masyarakat Palembang terutama kalangan pemuda di kota Palembang masih minim akan sejarah kota Palembang. Sebagai penduduk kota Palembang  seharusnya mereka harus memahami siapa Sultan Mahmud Badaruddin II, siapa Dampunta Hyang dan lain sebagainya, Sultan Mahmud Badaruddin II itu yang mengemuka karena gambarnya ada di uang, di Bandara, ada di Museum, ada di masjid.

Ketua Dewan Kesenian kota Palembang (DKP) yang juga sejarawan dan budayawan kota Palembang, Vebri Alintan sempat mengalami hal tersebut, menurut Vebri  saat dia bertanya kepada pelajar di kota Palembang bagaimana sejarah kota Palembang banyak yang menjawabnya ngamur.

“Itu hal yang paling  populer mereka tidak paham, ini mencerminkan kurangnya informasi sejarah kepada generasi muda, karena itu berbagai cara banyak untuk menyampaikan sejarah kota Palembang seperti kurikulum wajib sejarah kota Palembang di masukkan , mereka lebih kenal Pangeran Dipenegoro dan pahlawan dari luar  ketimbang pahlawan dari Palembang,” kata Vebri beberapa waktu lalu.

Selain itu even-even hari jadi baik kota Palembang atau Provinsi Sumsel seharusnya dijadikan even promosi tentang kota Palembang dan bukan sekadar jualan atau pameran saja. Apalagi guru-guru sejarah kadang juga tidak paham, guru sejarah harus paham dari sejarah kota Palembang dari kerajaan Sriwijaya hingga revolusi RI.

Karena itu sudah seharusnya sejarah kota Palembang masuk di muatan lokal pelajaran sekolah sekitar 30 persen hingga 40 persen. Apalagi Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darusalam selama ini  tenggelam dengan sejarah kerajaaan di Jawa.

“Kerajaan Sriwijaya itu menguasai dua kutub kekuasaan Jawa dan Melayu, wangsa Sanjaya  dan Wangsa Sailendra, Wangsa Sailendra malah membangun candi Borobudur dan membangun kerajaan dan budaya di Jawa dan melahirkan raja-raja di Jawa termasuk Mataram, kalau politik budaya yang dibangun seharusnya kita dikenal ketimbang Mataram sekarang , ketimbang Malaka,” kata Vebri.

*Penulis adalah Jurnalis dan Pemerhati Sejarah Palembang

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here