Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Muhasabah Waktu dan Periode Kehidupan

Muhasabah Waktu dan Periode Kehidupan

Tanggal : Pukul :
503
0
Oleh: Abdul Malik Syafei, MH
Oleh: Abdul Malik Syafei, MH

Tak terasa hari ini sudah berganti tahun, rasanya tangan ini masih latah menulis tahun 2019 dalam mengingat hari dan tanggal. Ternyata hari Rabu ini sudah tanggal 1 di tahun 2020. Begitu cepatnya waktu berlalu, menjadi masa lalu yang hanya bisa dieluh, dan pegingat apabila bernilai manfaat.


IBARAT garis lurus, waktu ini terus berjalan dan apabila sudah melangkah tidak bisa kembali. Waktu bukan seperti lingkaran yang jika sudah melangkah dapat kembali di titik semula. Siapa yang bisa memanfaatkan waktu selama tahun 2019 lalu, maka ia termasuk beruntung. Tapi apabila ia lalai jangan-jangan ia termasuk orang merugi karena tidak bisa memanfaatkan waktu, dalam artian hari ini sama dengan kemarin, atau justru terlaknat karena hari ini lebih buruk dari hari kemarin.

Begitu pentingnya waktu, Allah Swt beberapa kali mengawali surat/ayat dalam al-Qur’an dengan kata sumpah (Qasm) waktu. Diantaranya, Wal Fajri (demi waktu fajar) dalam surah Al Fajr. Dalam surah itu Allah memberikan waktu kepada manusia untuk digunakan sebanyak-banyaknya untuk berpikir, merenung, dan merencanakan apa yang akan dilakukan. Kemudian, Wa-Adhuha (Demi waktu Duha) dan Surah Al Lail, demi waktu malam. Lalu, kita temui lagi Allah bersumpah Wal Asr (Demi Masa), dalam ayat ini jelas sekali disebutkan bahwa manusia dalam keadaan merugi apabila tidak memanfaatkan waktu untuk beriman dan beramal shaleh, serta saling nasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Waktu adalah momentum, sedikit saja kita lalai, maka kita akan merugi atau tidak akan mengulanginya. Hari ini 1 Januari 2020, jelas pasti berbeda dengan 1 Januari 2019 lalu, jika kita tidak cermat, tentu kita sulit bahkan tidak bisa mengulangi kesempatan yang ada saat ini pada tahun 2021 nanti. Itulah sebabnya orang barat menyebut Time Is Money (waktu adalah uang) karena orientasinya adalah materi sehingga sedikit saja terlambat, maka akan kehilangan kesempatan. Bahkan, pribahasa Arab mendeskripsikan al-waktu kasyaif (waktu laksana pedang). Jika kita tidak mampu memanfaatkannnya, waktu sendiri yang akan menebas kita.

Waktu dan Periode Kehidupan

Menurut al-qur’an manusia mengalami periode-periode kehidupan, yang diawali dengan alam ruh. Alam dimana manusia sebelum diutus oleh Allah di atas dunia yang akan menerima amanah sebagai khalifah (pemimpin) di dunia. Alam ruh adalah perjanjian dan persaksian manusia kepada tuhannya akan tunduk dan patuh serta tidak akan menyekutukannnya: “Allastu bi rabbikum?” (“bukankah AKU Tuhanmu?”). Mereka (semua manusia) menjawab: “Bala Syahidnâ..”“Benar! Engkaulah Tuhan kami..” (QS: Al-A’raaf; 172)

Manusia kemudian mengalami evolusi biologis, dari saripati tanah, nuthfah (air mani yang bercampur dengan telur), ‘alaqah (segumpal darah yang melekat pada dinding rahim). mudgah (segumpla daging yang warnanya merah kehitam-hitaman). Tulang-belulang dan dibungkus oleh daging dan terakhir diberi bentuk lain (tidak sama dengan manusia lainnya). Lalu, masuklah manusia kedalam alam Rahim atau arham.

Atas kehendak Allah, manusia kemudian lahir ke alam dunia ini, tidak memiliki apa-apa, lahir dalam keadaan telanjang. Manusia lahir dalam keadaan lemah, tak berdaya hanya bisa menangis. Manusia tumbuh mulai dari balita, bisa berjalan, meranjak remaja hingga aqil baligh. Pada waktu ini manusia mendapatkan tugas dan janjinya untuk beribadah kepada Allah Swt, menunaikan misinya sebagai khalifah di muka bumi ini. Pertanyaannya, berapa lama manusia mendapatkan tugas di dunia ini? sunnahtullah manusia diciptakan dalam keadaan lemah, kuat dan lemah kembali, ada yang tidak melwati periode tersebut, karena itu kehendak yang kuasa. Berapa lama kita hidup? hanya Allah yang tahu, ketika sudah sampai waktunya kita tidak akan bisa menundanya atau mempercepatnya “Apabila ajalnya sudah sampai maka tidak bisa di ajukan atau di udurkan lagi”(QS: Al A’raf ayat 34). Pastinya semua yang bernyawa ini akan mati, ajal datang tidak menunggu tua, tidak harus sakit, tidak memilih waktu dan tempat kullu nafsin zaikatul maut (setiap yang bernyawa pasti akan mati).

Dalam menyikapi kematian ini, Rasulullah setidaknya memberikan tiga pesan kepada ummatnya. Pertama, jangan takut mati, tapi takutlah setelah mati. amal apa yang akan kita bawa sebagai bekal di alam qubur dan akherat nanti. Ketika jasad ini mati, ruh kita tetap hidup menuju perjalanan berikutnya. Maka beruntunglah orang yang memanfaatkan waktunya untuk ibadah dan berbuat kebaikan, karena ini akan dinikmati di alam kubur nanti. Tapi celaka ia yang melalaiakan waktu, berbuat dosa dan zhalim, sudah mendapatkan siksa sejak di alam kubur.

Meskipun tak takut mati, tapi Rasulullah berpesan jangan mencari mati atau mencari sebab yang dapat mendatangkan kematian. Bunur diri, misalnya. Orang yang bunuh diri ini, berani mati tapi takut untuk hidup. Ingatlah bunuh diri adalah dosa besar.

Terakhir, ingatlah kematian. Ajal bisa datang kapan saja karenaya silahkan kita mencintai istri, suami, anak dan harta dengan sewajarnya. Karena entah mereka atau kita yang duluan pasti akan menemui ajalnya, karena hidup ini bergantia. Bisa saja hari ini, kita mengantarkan jenazah ke kekuran, besok kita. Bisa saja kemarin kita ikut mensolati jenazah, besok kita, bisa saja hari ini kita ikut yasinan, tapi besok foto kita yang berada di buku surat yasin tersebut, mengenang kematian kita. Karena, sekali lagi, ajal adalah rahasia Allah Swt.

Ketika kematian datang tidak ada yang bisa kita bawa, hanya kain kafan yang membungkus mayat kita. Semua amal terputus kecuali tiga perkara, dan inilah yang harus kita investasikan selama hidup di periode alam dunia ini. Yakni Ilmu yang bermanfaat, tak perlu banyak ilmu untuk dimanfaatkan, dikit asal diamalkan dengan istiqomah dan dapat teladan akan menjadi amal tak terputus, terlebih jika diajarkan. Kedua, amal jariah, yakni upaya kita mewakafkan harta atau tenaga untuk aktivitas sosial misalnya gedung pendidikan, kesehatan dan kegiatan sosial lainnya. Dan terkahir adalah anak yang shaleh mendoakan kedua orang tuanya, jangan sampai anak justru nantinya menjadi fitnah, makanya penting mendidik dan berdoa agar mendapatkan keturunan yang shaleh dan shalehah.

Tahun Baru Momentum Muhasabah

Pergantian tahun, adalah momentum bagi kita untuk ber-muhasabah terhadap apa yang telah kita lakukan selama setahun terakhir ini, apabila itu bernilai kebaikan marilah kita lanjutkan, istiqomah-kan dan terus ditingkatkan. Tetapi jika mendatangkan nilai keburukan, segeralah bertaubat kepada Allah Swt, berdoa dan berusaha untuk memperbaikinya sebelum ajal datang menghampiri kita. Perlu kita ingat, berganti tahun, berarti berkurang juga bilangan jatah kehidupan kita di dunia ini.

Tidak ada yang patut kita banggakan, harta, jabatan, prestasi dan perkara dunia lainnya semua akan dipertanggung jawabkan nantinya. Jadilah ia ladang untuk beribadah, bukan sebaliknya justru menjadi ajang saling menjatuhkan, fitnah dan bahkan berbuat zhalim. Yakinlah, alam-pun akan menolak keseimbangannya terhadap mereka yang berbuat demikian.

Tujuan kita untuk beribadah, maka ayo kita jadikan pekerjaan hanya selingan untuk menunggu waktu ibadah. Bukan sebaliknya, ibadah hanya melengkapi waktu istirahat dalam bekerja. Siapapun kita, pasti ingin mendapatkan akhir kehidupan ini dengan predikat husnul khatimah. Tapi ingatlah pencapaian ini bisa kita dapatkan dengan kebiasaan/keistiqomahan dalam amal kebaikan, tidak bisa dihafal atau diinginkan saja tanpa ada action nyata. Selamat Tinggal 2019, Selamat Datang Tahun Baru 2020, semoga kita semua dapat memanfaatkan waktu ini dengan sebaik mungkin. Wallahu ‘Alam


*Penulis adalah wartawan Detik Sumsel dan Ketua Umum Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Sumsel.

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here