Pasang Iklan Detik Sumsel
Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Membangun Budaya Literasi Keluarga: Jangan Jadi Orangtua Sok Sibuk

Membangun Budaya Literasi Keluarga: Jangan Jadi Orangtua Sok Sibuk

Tanggal : Pukul :
208
0
Siti Olisa, S.Pd, Guru SD Negeri 42 Palembang

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa keluarga merupakan sebaik-baiknya tempat untuk melakukan pendidikan invidual dan pendidikan sosial. Melalui pendidikan keluarga, pembangunan generasi emas harapan bangsa dimulai. Untuk itu keluarga harus menyadari peran pentingnya dalam pembangunan generasi bangsa yang berujung pada kesuksesan bangsa di masa depan.


Ada beberapa penelitian menyebutkan bahwa kesuksesan suatu individu dan negara tergantung pada budaya membaca. Seperti yang disampaikan President Central Connecticut State University (CCSU) (CCSU), Amerika Serikat, John W Miller budaya membaca kunci sukses bagi individu dan negara dalam mengahadapi masa depan.

Dengan budaya membaca ini, seseorang bisa memperkaya ilmu, bisa melihat dunia hanya dari membaca buku. Selain itu dengan membaca, kita bisa meningkatkan kemampuan kita dalam berpikir, berimajinasi, menemukan ide-ide baru, memecahkan masalah, serta pondasi yang baik untuk berkomunikasi. Membaca juga dapat meningkatkan kedisiplinan diri kita karena kita dituntut untuk fokus ketika membaca sebuah buku.

Namun sayangnya beberapa tahun terakhir, minat baca anak-anak Indonesia berada di urutan terbawah. Berdasarkan hasil survei kelas dunia, seperti Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2015, Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Sedangkan pada survei yang dilakukan Central Connecticut State University (CCSU) pada 2016 Indonesia berada pada urutan 62 dari 72 negara.

Sadar atau tidak, rendahnya budaya membaca ini merupakan ancaman tersendiri bagi masa depan bangsa. Sungguh ironis, padahal Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah jumlah usia angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun mencapai 70 persen. Sedangkan 30 persen penduduknya adalah berusia tidak produktif yaitu usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun. Dimana pada masa ini, Indonesia berada pada masa emas pembangunannya.

Untuk membangun Indonesia di masa emas ini, pemerintah gencar melakukan upaya peningkatan literasi, baik di sekolah dan di dalam masyarakat melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN). Untuk mencapai target ini, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri, semua pihak harus terlibat, terutama keluarga. Karena keluarga menjadi ujung tombak pembangunan bangsa. Di dalam keluarga semua hal baik mulai ditanamkan, termasuk penanaman kebiasaan berliterasi.

Pentingnya peran keluarga dalam membangun budaya literasi anak ini sudah banyak diteliti oleh para ahli. Diantaranya Connie R. green dan Shareen W Halshall dalam penelitian mereka bertajuk Head Start Families Sharing Literature menemukan bahwa membacakan buku secara rutin kepada anak akan memberikan mereka kemampuan bertanya, menandai, mengamati secara detail, mampu membuat korelasi antara apa yang dibaca dengan kenyataan sehari-hari dan menceritakan ulang. Kemampuan menceritakan ulang bukanlah kemampuan remeh karena melibatkan daya ingat, kemampuan memilih kata, dan menceritakan secara lisan.

Dari penelitan di atas menunjukkan bahwa hanya dengan membacakan buku bisa memotivasi anak untuk menjadi seorang pembaca dan akhirnya pembelajar. Semakin dini orang tua terlibat, maka akan semakin besar efek postif yang dihasilkan.

Namum sayangnya orangtua saat ini sok sibuk, baik yang disibukkan dengan pekerjaan domestik maupun pekerjaan di luar. Tidak ada waktu lagi untuk sekedar bercerita dengan anak, sehingga orangtua dan anak tidak mempunyai keterikanan emosi atau kontak bathin.

Contoh Penerapan Budaya Literasi Keluarga

Dosen Bahasa Indonesia Universitas Sriwijaya, Izzah Zen Sukri salah satu tokoh literasi yang patut dijadikan contoh dalam membangun budaya literasi keluarga sehingga menjadi kebiasaan turun temurun.

Berawal dari kebiasaan ibunya yang hobi membaca Izzah bersaudara sudah akrab dengan buku sejak kecil. Pengenalan kepada buku dengan cara menyenangkan yang dilakukan oleh ibunya sukses membuat anak-anaknya jatuh cinta dengan buku.

Mulai dari kebiasaan berceritka dan membacakan dogeng sebelum tidur yang dilakukan ibunya, Izzah bersaudara terbiasa membaca buku hingga akhirnya bisa menulis dan menerbitkan buku masing-masing. Kebiasaan ini ditularkan tentunya dengan cara menyenangkan, tidak dengan paksaan. Tidak seperti menggurui, tetapi lebih ke arah sharing. Membaca sambil tiduran, setelah itu berbagi cerita dari buku yang dibaca.

Dari kebiasaan ini, Izzah kecil dan saudara-saudaranya terbiasa menganalisis, terbiasa menguraikan, dan terbiasa menceritakan kembali. Tentu ini bukan kemampuan remeh, karena saat menceritakan kembalikan diperlukan pemilihan kata, kemampuan mengingat, dan kemampuan verbal lainnya.

Kebiasaan dari sang ibu ini juga ditularkan kepada anak-anaknya hingga cucunya. Bahkan dalam waktu dekat anaknya akan menerbitkan buku kumpulan puisi karyanya sendiri. Izzah sendiri setiap bulan menerbitkan buku. Ya ini adalah hasil dari hobi membacanya, tak hanya menambah wawasan tapi juga bisa menambah pundi-pundi uang.

Keluarga Izzah adalah contoh konkret, bagaimana sebuah pendidikan literasi yang dilakukan keluarga bisa membuat potensi seorang anak mengembang begitu rupa.

Membangun Budaya Literasi di Era Milenial

Membangun budaya literasi di era milenial tidak semudah membangun budaya literasi keluarga sebelumnya. Pasalnya di era milenial ini, keluarga harus bisa menyeimbangkan antara informasi yang diperoleh anak melalui internet dengan informasi yang ada di buku.

Keterbukaan informasi saat ini tak lantas harus meninggalkan buku sebagai sumber informasi utama yang lebih valid. Karena informasi atau pengetahuan melalui sosial media sulit dipertanggungjawabkan. Untuk membangun pondasi budaya lietrasi di dalam keluarga yang pertama yang harus dilakukan adalah pengenalan buku sedini mungkin. Para orangtua sudah bisa mengenalkan buku kepada anak-anak sejak umur 0 tahun dengan cara menceritakan buku bergambar. Pada usia ini anak mulai dikenalkan buku bantal dengan warna-warna menarik. Hal ini bisa mengasah kemampuan motorik dan verbal anak melalui kegiatan bercerita yang dilakukan orangtua. Semakin sering orangtua membangun komunikasi dengan anak, semakin baik kemampuan berbahasa anak.

Kedua, membangun komunikasi antar keluarga dengan cara bercerita. Bercerita merupakan langkah awal yang sederhana dalam membangun budaya literasi di dalam keluarga. Namun sayangnya, keluarga saat ini lebih memilih bercengkrama di dunia maya dibandingkan dengan orang-orang di sampingnya. Bercerita bersama keluarga bisa menjadi salah satu wadah penyaluran aspirasi, penambahan pengetahuan, dan suasana di dalam keluarga pun lebih santai dan nyaman. Jika anak sudah punya tempat nyaman untuk bercerita tidak akan ada lagi anak-anak yang curhat dengan barang haram seperti narkoba dan curhat dengan cara-cara negatif lainnya, karena tempat yang nyaman untuk bercerita adalah keluarganya.

Ketiga menyediakan pojok baca di dalam rumah yang mudah terlihat dan terjangkau. Dengan adanya pojok baca di rumah membuat anak punya ruang sendiri untuk membangun budaya membacanya. Koleksi buku yang sesuai dengan perkembangan anak akan sangat berpengaruh terhadap ketertarikan anak dalam membaca.

Keempat, mengatur jadwal khusus untuk berliterasi. Orangtua sebagai anggota keluarga membuat jadwal khusus kegiatan membaca, lalu menceritakan kembali apa yang sudah dibaca secara bersama-sama. Hal ini harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan, bisa sambil mengobrol santai disertai cemilan ringan.

Ketika budaya literasi keluarga sudah berjalan dengan baik, obrolan di dalam keluarga pun menjadi asyik dan menyenangkan, karena setiap anggota keluarga bercerita pengalaman hal-hal baru hasil dari buku yang dibacanya dan tentunya bisa menambah pengetahuan.

Kemampuan literasi yang baik juga bisa menjadi filter di tengah arus keterbukaan informasi sehingga tidak gampang disusupi informasi hoax. Setiap anggota keluarga akan memiliki dasar keilmuan yang cukup kuat untuk menyikapi setiap permasalahan kehidupan. Dengan budaya literasi keluarga yang baik diharapkan akan menghasilkan masyarakat literasi yang berujung pada negara yang memiliki literasi yang baik. Melalui budaya literasi yg dimulai dari keluarga masing-masing, akan menghasilkan generasi yg cerdas intelektual, emosional, dan spiritual.


Penulis: Siti Olisa, S.Pd, Guru SD Negeri 42 Palembang

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here