Beranda Liputan Khusus Laku Pandai Dongkrak Inklusi Keuangan di Sumsel

Laku Pandai Dongkrak Inklusi Keuangan di Sumsel

Tanggal : Pukul :
754
0
Grafis Tren Inklusi keuangan di Sumsel yang didongkrak oleh program Laku Pandai OJK.

Menilik Inklusi Keuangan di Sumsel


INKLUSI keuangan di Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami tren positif. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2017, tercatat 73,09 persen penduduk Sumsel sudah menggunakan jasa keuangan (inklusi) dengan tingkat literasi (pemahaman) mencapai 31,64 persen. Prestasi yang melebihi rata-rata nasional ini, tidak terlepas dari diterimanya program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) yang dicanangkan OJK sejak tahun 2015 lalu.

“Hal yang sangat positif dari agen Laku Pandai adalah tabungan yang bersifat basic saving account yang tidak ada biaya administrasi, inilah yang mendorong akses ke masyarakat,” kata Kepala OJK Kantor Regional VII Sumatera Bagian Selatan Panca Hadi Suryatno kepada wartawan Detik Sumsel, belum lama ini.

Panca menjelaskan, kinerja Laku Pandai yang dijalankan sejumlah perbankkan cukup agresif sehingga mendongkrak inklusi keuangan di Sumsel. Dimana, survei OJK tahun 2013 lalu, baru 66,67 persen penduduk menggunakan jasa industri keuangan. Tapi di tahun 2016, naik menjadi 72,36 persen dan 73,09 persen (2017). “Jika dirata-ratakan naik 2,3 persen  pertahunnya,” katanya.

Kepala OJK Regional Sumbaksel Panca Hadi Suryatno

Menurut Panca, tren positif ini selaras dengan persebaran jumlah agen Laku Padai karena ada implikasi terhadap jumlah nasabah dan dana yang terhimpun. Dimana, pada kuartal pertama tahun lalu, mencapai 423.070 nasabah, mengalami kenaikan sebesar 296 persen dari 106.656 nasabah dari sebelumnya. “Dari sisi agen, hingga Maret lalu mengalami pertumbuhan 172,4 persen dari 7.007 pada tahun 2017 atau naik menjadi 19.073 agen,” ungkapnya.

Dikatakan, sejauh ini Laku Pandai semakin berkembang di kota Palembang karena memang jumlah masyarakat yang melek keuangan paling tinggi. Tapi banyak juga Perbankkan yang menyisir daerah yang sulit untuk menjangkau akses keuangan. “Dana tabungan dari program Laku Pandai saat ini sudah mencapai Rp 61,88  Miliar dari tahun lalu hanya Rp 5,89 Miliar atau naik 950 persen,” paparnya.

Baca Juga :   Inklusi dan Literasi Keuangan di Sumsel Timpang  

Masih menurut Panca, warga Sumsel harus terus didorong untuk menggunakan produk-produk jasa keuangan meliputi perbankan, asuransi, pembiayaan, dana pensiun, pegadaian dan surat berharga. “Sejauh ini data menunjukkan untuk literasi keuangan Sumsel telah mencapai 31,64 persen, sementara secara nasional 29,66 persen. Artinya memang masih banyak warga yang menggunakan jasa keuangan tapi belum sepenuhnya paham. Ini juga yang terus kami dorong agar benar-benar ideal,” katanya.

Selain program Laku Pandai, beberapa faktor yang menyebabkan baiknya indeks inklusi keuangan di Sumsel karena semakin gencarnya sosialisasi produk industri keuangan oleh OJK dengan para stake holder sejak tiga tahun terakhir. “Sumsel sendiri telah terbangun sinergi dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah bersama pemerintah kabupaten/kota,” tuturnya.

Masih menurut Panca, OJK secara nasional menargetkan peningkatan literasi dan inklusi keuangan sebesar 75 persen pada 2019. Untuk itu, pihaknya terus berupaya memudahkan pemahaman masyarakat terhadap industri jasa keuangan. Diantaranya, dengan membuat pasar keuangan mini di Palembang.

Tak hanya itu, untuk tingkat kabupaten/kota, OJK juga menggandeng Bank Indonesia untuk mensosialisasikan ke masyarakat pedesaan. “Kami juga menyisir pelajar dan mahasiswa dengan program OJK Goes To School/Campus dan komunitas. Memberikan pemahaman dan sosialisasi guna meningkatkan literasi keuangan. Sementara BI lebih menekankan layanan keuangan digital,” terangnya.

Diketahui, sejauh ini data masih menempatkan Jakarta sebagai provinsi dengan nilai tertinggi untuk inklusi keuangan yakni 78,18 persen dan Papua Barat sebagai yang terendah yakni 58,55 persen. Untuk di Pulau Sumatera, Sumsel peringkat tiga di bawah Medan dan Aceh baik dalam literasi maupun inklusi keuangan. “Saya optimis Sumsel bisa bisa konsisten dan menembus angkat rata-rata Nasional, sesuai dengan yang ditargetkan OJK 75 persen di tahun 2019 nanti,” tukasnya.

Dirut Bank Sumsel Babel, M Adil

Sementara itu, Direktur Bank Sumsel Babel (BSB) M Adil mengakui jika program Laku Pandai berhasil meningkatkan jumlah nasabah dan berimplikasi pada inklusi keuangan di BSB. “Program Laku Pandai ini terbukti, selain mempermudah jangkauan bank, juga dapat meningkatkan account nasabah baru,” kata Adil.

Baca Juga :   Gubernur Yakini Bank Syariah Mampu Bersaing dengan Bank Konvensional

Sebagai bank daerah, Adil sangat mendukung program yang dicanangkan oleh OJK, bahkan kini Laku Pandai BSB sudah tersebar di 12 kabupaten/kota wilayah Provinsi Sumsel dan Babel. “Sementara ini kita masih tarik-setor. Kedepan agen Laku Pandai ini diharapkan bisa diperluas memproses pemberian kredit UMKM, Kredit Mikro sehingga menjadi lebih luas dan inklusif,” paparnya.

Progres positif ini, kata Adil, terlihat dari meningkatnya jumlah agen Laku Pandai. Saat ini, total agen sampai Juni 2018 mencapai 27 agen dengan jumlah 382 nasabah. Angka ini meningkat signifkan dibandingkan Desember tahun lalu baru 19 agen dengan 167 nasabah.

“BSB kini mengembangkan keuangan syariah untuk meningkatkan peran Laku Pandai dengan membuka agen di Masjid/Mushalla dan juga pesantren-pesantren. Pasalnya, di tempat-tempat tersebut, sangat potensial untuk membentuk agen dan menggaet nasabah melalui prinsip keuangan syariah,” ungkapnya.

Masih menurut Adil kemudahan dalam menggunakan jasa keuangan melalui agen Laku Pandai ini menjadi kelebihan tersendiri. Sebab untuk tarik-setor misalnya, tidak perlu lagi jauh datang ke kota, atau ke Bank cukup ke agen saja. “Prosesnyapun mudah, tidak perlu juga rapi-rapi ke kantor, sarungan saja bisa ke agen. Hal ini sangat mempermudah bagi nasabah dan efesien bagi bank.

Ia menambahkan, mendukung inklusi keuangan juga BSB sedang gencarnya mempromosikan digital banking melalui program BSB Cash sebagai produk Uang Elektronik. BSB cash ini dapat digunakan untuk menggunakan jasa light rail transit (LRT), Tol, Parkir, Transmusi dan juga masuk kawasan Jakabaring Sport City. “Kita juga sudah siapkan jika kedepan pembelian tiket masuk menonton Bola di Jakabaring menggunakan BSB Cash. energi kita lagi fokuskan kesana (digital banking),” pungkasnya. (DUL/DS)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here