Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Palembang Kekerasan Seksual Dominasi Kejahatan pada Perempuan

Kekerasan Seksual Dominasi Kejahatan pada Perempuan

Tanggal : Pukul :
263
0

Palembang, Detik Sumsel – Sepanjang tahun 2018, tercatat ada 133 kasus kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Sumsel, yang didampingi oleh Women’s Crisis Center (WCC) Palembang. Dari sekian banyak kasus tersebut didominasi oleh kasus perkosaan dan kekerasan seksual lainnya sebanyak 79 kasus.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif WCC Palembang, Yeni Roslaini dalam kegiatan laporan pertanggung jawaban publik WCC Palembang di The Zuri Hotel. Dikatakan Yeni, maraknya kasus tersebut didominasi karena tidak banyak pihak yang memahami dan peka terhadap persoalan kekerasan seksual apalagi untuk ikut serta dalam menangani kasusnya.

“Ada juga kasus KDRT, kekerasan dalam pacaran, perdagangan perempuan dan anak maupun kekerasan lainnya yang juga ditemukan dalam masyarakat. Dan Alhamdulillah dari kampanye yang kami lakukan akhirnya mulai muncul keberanian korban untuk melaporkan kasusnya,” katanya, Senin (31/12).

Yeni menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan korban enggan melaporkan kekerasan seksual yang dialaminya. Seperti pelaku yang dikenali maupun relasi tak seimbang seperti guru dan murid, majikan dan asisten rumah tangganya.

“Mereka menganggap kalau melapor justru pelaku mencari alasan lain. Karena ada beberapa alasan sperti dituding mencuri atau mencemarkan nama baik. Padahal produk hukum kita sudah baik,” jelasnya.

Yeni berharap Undang-Undang khusus yang mengatur kekerasan seksual di Indonesia bisa disahkan. Karena, kata dia, jika kasus kalau bukan anak-anak akan sulit cari saksi.

“Korban merasa takut tidak ada bukti dan tidak dipercaya. Sedangkan kalau kasusnya 18 tahun ke bawah atau anak-anak akan mudah ditangi karena ada UU perlindungan anak. Makanya kita mendorong pengesahan UU tersebut untuk segera disahkan karena sudah darurat,” bebernya.

Masih kata Yeni, saat ini memang kurang edukasi semua pihak. Apalagi isu seksualitas adalah tabu. Padahal pengenalan organ tubuh dan dampaknya sangat penting diajakan kepada anak-anak.

“Mereka (korban) takut menerima vonis dari lingkungannya. Sebaliknya pelaku kekerasan sering dibela masyarakat dan keadaan inilah justru membuat korban semakin menyalahkan diri sendiri,” pungkasnya. (Bra)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here