Beranda Liputan Khusus Inklusi dan Literasi Keuangan di Sumsel Timpang  

Inklusi dan Literasi Keuangan di Sumsel Timpang  

Tanggal : Pukul :
438
0
Pengamat Ekonomi Sumsel Kardinal SE MM CFP (Foto: Malik/Detik Sumsel)

PENGAMAT Ekonomi Sumsel Kardinal SE MM CFP menilai, meskipun inklusi keuangan di Sumsel sudah cukup baik, tapi tingkat literasi (pemahaman) keuangan di Sumsel masih rendah. Bahkan, terjadi gap yang sangat signifikan dianatara keduanya.

“Banyak masyarakat kita yang menggunakan produk jasa keuangan, tapi tidak paham,” kata Kardinal saat dibincangi Detik Sumsel, belum lama ini.

Dosen menejemen STIE MDP ini memaparkan data OJK tahun 2017 terlihat dari 73,09 persen penduduk Sumsel yang sudah menggunakan inklusi keuangan, hanya 31,64 persen saja yang paham. Artinya, libih dari separuh pengguna jasa keuangan hanya ikut saja tanpa paham. “Fenomena ini terjadi merata di Sumsel, ada yang nabung tapi tidak tahu tabungannya deposito. Ada juga mereka yang kredit kendaraan atau rumah tapi tidak paham jika include asuransi di dalamnya,” tuturnya.

Baca Juga :   Laku Pandai Dongkrak Inklusi Keuangan di Sumsel

Menurut Kardinal, gap ini hampir terjadi di seluruh Indonesia dan menjadi PR bagi OJK karena termasuk rendah di Asia Tenggara. Sosialisasi yang belum merata ke semua kalangan dan menyentuh sampai ke pelosok desa menjadi penyebab utama masih timpangnya inklusi dan literasi keuangan di Sumsel. “Saat sosialisasi, inklusi dan literasi harus sejalan secara continue tidak hanya eksidentil saja,” sarannya.

Ditambahkan, saat ini pengguna jasa keuangan masih terpaku pada perbankan saja, sementara pasar modal seharusnya dapat menjadi investasi baru dalam upaya meningkatkan inklusi keuangan di Sumsel. Misalnya, mensosialisasikan bursa efek kepada mahasiswa dan pelajar karena sekarang pasar modal sangat bisa dijangkau dengan uang ratusan ribu tidak harus puluhan juta.

Baca Juga :   Gubernur Yakini Bank Syariah Mampu Bersaing dengan Bank Konvensional

“Membuka galeri investasi di Kampus bisa menjadi solusi menggaet pelajar melek inklusi dan literasi. Sebagai genearsi penerus, penting menggandeng pelajar dan mahasiswa ini karena kedepan merekalah yang akan menjadi pemain, jika kita kenalkan pasar modal sejak dini. Sehingga target 75 persen inklusi keuangan di Indonesia, diiringi dengan literasi yang baik dan bahkan menjadi pemain ekonomi, bukan hanya sekedear pengguna,” tukasnya. (DUL/DS)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here