Beranda Refleksi Evaluasi PON XIX: Antara Prestasi, Pentas dan Pembinaan di Sumsel

Evaluasi PON XIX: Antara Prestasi, Pentas dan Pembinaan di Sumsel

Tanggal : Pukul :
434
0
Evaluasi PON XIX Antara Prestasi, Pentas dan Pembinaan di Sumsel - Bagindo Togar
Evaluasi PON XIX Antara Prestasi, Pentas dan Pembinaan di Sumsel - Bagindo Togar

PROVINSI Jawa Barat Baru saja menyelesaikan perhelatan Pekan Olahraga Nasional XIX yang relatif sukses baik dari sisi penyelenggaraan, pementasan, dan prestasi yang diperoleh. Selanjutnya Provinsi Papua telah ditetapkan menjadi tuan rumah PON XX Tahun 2020. Provinsi Jawa Barat telah meraih kesuksesan dalam beragam dimensi.

Bagaimana dengan kita? Provinsi Jawa Barat berhasil mendapat 217 medali emas, 157 medali perak dan 157 medali perunggu, total perolehan 531 medali. Kita hanya memperoleh 6 medali emas, 11 medali perak dan 14 medali perunggu, total perolehan 31 medali. Hanya setingkat lebih baik dari Provinsi NTB, Kalsel, Aceh dan lain-lain. dan setingkat lebih tidak beruntung dari Provinsi Jambi dan Kalbar dan lain-lain.

Prestasi-prestasi tersebut terus melorot sejak PON XVI di Sumatera Selatan sampai dengan PON XIX di Jawa Barat. Pada PON XVIII di Riau, kita berada diposisi 14 dengan perolehan medali 10 emas, 14 perak dan 29 perunggu total 53 medali. Pertanyaan berikutnya, pantaskah hasil yang selama ini kita peroleh bila mengacu kepada fasilitas, program, dan kebijakan-kebijakan pembinaan olahraga yang di berikan pihak pemerintah serta pemangku kepentingan dibidang olahraga di daerah ini?

Mencapai Prestasi

Berkompetisi di dalam dunia Olahraga, pencapaian prestasi menjadi muara yang diidamkan oleh para atlit, serta menjadi indikator sukses tidaknya kontingen/tim dalam mengikuti even atau kontestasi dalam perlombaan olahraga. Permasalahannya bagaimana cara, upaya-upaya dan strategi guna memperoleh prestasi tersebut. Tentu tidak mudah dan juga tidak serta merta.

Provinsi Sumatera Selatan yang pernah menjadi tuan rumah pada PON XVI 2004 pernah menduduki 5 besar perolehan medali tetapi trus hingga saat ini terus merosot jauh terlempar hingga ke urutan 21. Bila fasilitas-fasilitas olahraga menjadi faktor penting dalam melahirkan atlit-atlit yang berprestasi dan berkualitas, sepertinya sangat tidak pantas kita memperoleh prestasi seperti sekarang ini. Karena bila di ambil contoh Provinsi Kaltim yang pernah menjadi tuan rumah pada tahun 2008 hingga saat ini mampu menjaga prestasinya, dimana pada PON XIX Jawa Barat masih mampu bertahan pada urutan 5 besar, begitu juga Provinsi-Provinsi Lainnya di Indonesia sangat consern menjaga dan mengawal prestasinya dalam kancah kompetisi-kompetisi olehraga nasional.

Baca Juga :   Pemuda Harus Waspada Radikalisme

Sumatera Selatan (Khususnya Kota Palembang) beberapa kali telah menjadi tuan rumah dan juga penyelenggara berbagai even olahraga baik secara regional, nasional dan internasional. Seperti PON, Sea Games, Islamic Solidarity Games, AUG, dan lain-lain cabang-cabang olahraga tertentu dalam beragam kelas. Bila perhelatan-perhelatan olahraga yang menjadi ukuran, sepertinya kepedulian pemerintah terhadap pembangunan dan pengembangan cukup besar atau mungkin sangat besar.

Akan tetapi tidak seiring dengan prestasi yang diperoleh oleh para pelaku olahraga khususnya atlet di daerah ini. Olahraga prestasi pada intinya adalah olahraga yang melahirkan dan mengembangkan seorang atlit atau timnya secara terencana, berjenjang dan berkelanjutan melalui kompetisi guna tercapainya prestasi dengan dukungan pengenalan, ilmu pengetahuan dan teknologi kenegaraan.

Memang dalam pelaksanaannya tidak semudah seperti yang direncanakan, banyak permasalahan yang ditemukan yang bisa saja berujung  pada kegagalan. Hal ini tidak terlepas pada faktor kebijakan, kualitas fisik dan karakter pada atlit, keseriusan juga komitmen yang kuat antar pelaku olahraga yang diakhiri dengan pembinaan dan pengembangan olahraga tersebut.

Provinsi Jawa barat telah sukses dengan prestasinya menjadi juara umum, dimana bila jumlah penduduk yang 40 juta jiwa yang menjadi acuan untuk memperoleh atlit-atlit yang berprestasi, selayaknya Provinsi Sumatera Selatan yang jumlah penduduknya sekitar 8 juta  jiwa, maka perolehan medali yang kita pantas dapat adalah 43 emas, dan masing-masing 31 medali perak dan perunggu. Sangat tidak signifikan dengan perolehan medali yang kita dapat saat ini. Dan berdasarkan fasilitas-fasilitas olahraga yang kita miliki saat ini selayaknya juga kita masuk dalam 3 besar.

Pencapaian prestasi yang setinggi-tingginya merupakan puncak segala tahapan pembinaan dan kompetisi, setelah melalui berbagai macam pelatihan dan uji coba. Dari hasil tersebut terlihat kinerja para pengurus organisasi terkait dalam bidang olahraga. Secara khusus peran pembina olahraga yang secara politik strategis bertanggung jawab atas prestasi-prestasi para atlit yang ada dalam lingkup pembinaan di daerah. Artinya dibutuhkan peran pembina dan pemangku kepentingan olahraga untuk memahami dan cinta atas dunia keolahragaan baik dari sisi regulasi, kelembagaan, kebijakan strategis, perencanaan yang terukur serta mengenali talenta dan karakter warganya, para calon atlit, atlit serta para pelatih.

Baca Juga :   Jalur Independen Akan Menjadi Pilihan

Pentas-pentas Berkelas dan Pembinaan

Beragam fasilitas-fasilitas olahraga yang menjadi pentas untuk berkompetisi para atlit relatif telah tersedia didaerah ini. Bahkan kualitas juga kuantitasnya relatif memadai untuk mengakomodir beragan kegiatan atau kompetisi olahraga, terbutkti telah terlaksananya beragam kegiatan yang berkelas terselenggara di daerah ini, juga pada tahun 2018 Sumatera Selatan menjadi salah satu tuan rumah Asian Games bersama DKI Jakarta. Sayangnya tidak menghasilkan atlit daerah yang mampu berprestasi dalam beragam even olahraga seperti yang pernah dilaksanakan di provinsi ini. Mengapa?

Aspek pembinaan menjadi sorotan yang penting guna mencapai tujuan dalam mengembangkan prestasi-prestasi olahraga. Pembinaan olahraga membutuhkan perhatian yang seksama meliputi pengorganisasiaan, prasarana dan sarana, model dan metode, pendanaan, pelatihan dan uji coba serta profesionalitas pendidikan keolahragaan.

Berolahraga pada intinya adalah aktivitas untuk memperoleh hidup yang sehat. Sudah tentu membutuhkan waktu pembinaan yang cukup panjang. Pemerintah dan masyarakat daerah selaiyaknya memetik hikmah atas terus meredupnya prestasi yang kita peroleh dalam kurun waktu 12 tahun terakhir. Pemetaan atas potensi-potensi atlit-atlit yang akan berprestasi harus mampu dilakukan secara terbuka dan melibatkan beragam unsur yang peduli dengan dunia olahraga misalnya KONI Daerah sebagai lembaga terdepan yang mengurus secara komperhensip dunia keolahragaan sepantasnya dihuni oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan kapabilitas atas dunia keolahragaan dan pekembangannya. Dan mampu secara kesatria bila gagal dalam mencapai prestasi, serta belum mampu untuk memotivasi publik akan pentingnya mengembangkan keolahragaan, lebih elegan untuk mundur menjadi pengurus keolahragaan.

Tentu saja peran, kepedulian dan tanggung jawab publik untuk mengawasi dinamika keolahgaraan, dimana hal ini menyangkut peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah ini. Hidup sehat, sportifitas, aktif dan kompetitif serta prestasi harus mampu menjadi referensi dan orientasi masyarakat di daerah ini. Pentas, Perlombaan dan Pembinaan akan menjadi ideal dan sebangun bila sinergi dengan prestasi yang diperoleh, serta menjadi variabel utama dalam dunia olahraga. bukan P…… yang lain, yaitu olahraga cenderung dipandang sebagai PROYEK. Sehingga Pronvinsi yang kita cintai ini bukan hanya mampu sebagai Panitia Pesta atau Penonton Semata. Semoga.

Penulis adalah Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here