Pasang Iklan Detik Sumsel
Beranda Refleksi Delapan Penyebab Anak-Anak Sulit dan Lama Bisa Baca

Delapan Penyebab Anak-Anak Sulit dan Lama Bisa Baca

Tanggal : Pukul :
3451
0

Apa yang menyebabakan anak-anak sulit dan lama dalam belajar membaca? Banyak yang menyalahkan anak-anak sebagai faktor penyebab utamanya, misal karena anak menolak, anak tidak fokus, karena anak pelupa atau karena anak suka bermain.


Padahal faktor penyebab utamanya bukan anak-anak, melain karena sulitnya metode yang diajarkan.

Sulitnya metode itu adalah ibarat anak usia dini dikasih nasi goreng yang panas, pedas dan keras tentu anak-anak akan menolak makanan yang tidak sesuai dengan usia dan seleranya tersebut.

Berikut ini adalah Delapan Penyebab Anak Sulit dan Lama Bisa Baca :

1. Menghafal Huruf
Mengapa sulit, karena jika anak lupa huruf a, b, c, dan seterusnya, maka kita sulit mencarikan ilustrasi untuk mengingatkannya. Maka tidak heran jika dipinta menghafal huruf bahkan dengan cara bernyanyi anak justru hafal lagunya tapi tidak tahu hurufnya.

2. Mengeja
Umpama mengeja kata JAKARTA, maka itu artinya kita menguraikan sebanyak 13 kali ucapan sebagai berikut :

j-a-ja ……… (3x),
k-a-ka ……. (3x),
jaka ………. (1x),
ditambah r – jakar (2x)
t-a-ta………….(3x)
jakarta ……….(1x)

Total ucapan karena mengeja kata Jakarta …. 13 kali.

Tentu proses mengurai huruf dan suku kata hingga menjadi kata tersebut diatas mudah bagi orang dewasa yang bisa membaca tapi sulit bagi anak-anak yang baru belajar membaca, istilahnya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

3. Melompat
Jika anak kita ajarkan tidak menghafal huruf dan tidak mengeja, tapi langsung di hari pertama kita ajarkan suku kata sebagaimana berikut :

ba … bi… bu… be …bo

Memang kelihatan mudah, tapi ini sangat sulit bagi anak-anak.
Mengapa demikian, karena suku kata …ba…saja anak belum tentu hapal, tapi langsung ada …bi…bu…dan …bo.
Hal ini ibarat naik rumah panggung, anak-anak disuruh langsung melompat, sebaliknya untuk lebih muda naik rumah panggung maka harusnya anak naik tangga, naik setapak demi setapak bukan melompat.

4. Calistung
Calistung adalah singkatan dari Membaca, Menulis, dan Berhitung. Itu adalah tiga pekerjaan berat yang biasanya dikerjakan dalam waktu yang sama. Setelah belajar membaca beberapa baris, anak ditugasi menulis satu halaman apa yang baru dibacanya tersebut, selanjutnya setelah menulis satu halaman, anak langsung belajar berhitung. Itu artinya anak belajar tiga hal yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.

Bagaimana pendapat anda seandainya seseorang belajar tiga kegiatan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, misal pertama belajar naik sepeda, lanjut kedua belajar naik sepeda motor, kemudian ketiga belajar menyopir mobil?

5. Klasikal
Umumnya, dalam sistem klasikal, akan berlaku konsep bahwa anak yang bisa menghafal dengan cepat akan semakin bisa, sebaliknya anak yang lambat menerima pelajaran dan lambat menghafalnya akan semakin tidak bisa, hal tersebut karena halaman yang dipelajari selalu sama sementara kemampuan mereka berbeda.

6. Bergambar
Gambar yang dimaksud adalah ilustrasi, misalnya GAMBAR BAJU dimaksudkan untuk menerangkan KATA BAJU, ilustrasi ini justru sering membingungkan siswa. Mengapa demikian? Sebab begitu anak-anak melihat gambar BAJU, mereka sudah berpikir untuk mengucapkan kata ‘BAJU’ tersebut sesuai dengan bahasa daerahnya masing masing, bukan sesuai tulisan sebagaimana yang dikehendaki orang tua atau guru.

7. Mempersulit
Huruf-huruf seperti ‘V, X & Q’ meski digabung menjadi suku kata dengan vokal a, u, e dan o tetap sulit pengucapannya dan hampir tidak ada media sebagai ilustrasinya, berbeda dengan huruf lain seperti ‘r’ ketika digabung vokal …a…lalu menjadi suku kata… ‘ra’… jika anak lupa maka medianya cukup tunjuk rambut, sehingga anak akan ingat dan mudah hafal.

Sementara huruf-huruf ‘V, X & Q’ tersebut selain sulit penyebutannya, sulit menghafalnya, juga jarang dipergunakan, apalagi bagi anak-anak yang baru belajar membaca, tapi selama ini seakan wajib dihafal bagi pemula.

8. Banyak Toolkit
Banyaknya alat-alat seperti Video, Kartu Baca, Papan Tulis, Gambar dan Buku Tulis adalah justru semakin menyulitkan fokus dan konsentrasi anak-anak untuk menghafal apa yang dipelajarinya, seharusnya medianya cukup satu buku saja yang tidak mengandung ‘Delapan Penyebab Kesulitan’ sebagaimana poin-poin diatas.

KESIMPULAN :
Jika ingin agar anak-anak mudah, cepat dan menyenangkan dalam belajar membaca serta orang tua atau guru tidak mudah naik darah, tidak marah-marah dan banyak tersenyum ketika mengajar anak membaca maka solusinya metode mengajar bacanya adalah :
1. Tidak menghafal huruf.
2. Tidak Mengeja.
3. Tidak Melompat.
4. Tidak Calistung.
5. Tidak Klasikal.
6. Tidak Bergambar.
7. Tidak Mempersulit.
8. Tidak Banyak Toolkit.


M. Toha_SB3 (Penemu, Penulis dan Trainer Buku ‘5 Jam Bisa Baca’)

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here