Pemerintah Kabupaten Banyuasin Siap Menyukseskan Asian Games Tahun 2018

Bulu Mata

0
46
Bulu Mata - Liza Wahyuninto
Bulu Mata - Liza Wahyuninto

KATA orang kalau ada bulu mata yang jatuh, artinya ada seseorang yang merindukanmu. Aku yang tidak pernah mau percaya dengan ucapan orang, apalagi yang berkenaan dengan menebak-nebak sesuatu yang tidak jelas. Entah kenapa hari ini aku percaya sekali bahwa ucapan yang telah menjadi peribahasa itu seperti ada kebenarannya. Bayangkan, dalam sehari ini saja, sudah tiga kali bulu mataku jatuh. Aneh. Aku mendapatinya menggelayut di antara bulu mata yang lainnya.

Masih kata orang, di saat bulu matamu jatuh, ambillah. Letakkan di telapak tanganmu. Tepuklah dan mulailah mengeja dari huruf A sampai Z. Jika nanti bulu matanya berpindah ke telapak tangan yang lain pada salah satu huruf, maka tebaklah, siapa orang-orang dalam kehidupanmu yang memiliki awalan dengan huruf demikian.

Aku sekonyong-konyongnya sangat geli bila mengingat-ingat ucapan ini. Tapi kali ini dengan masa bodoh aku pun ikut melakukannya. Seorang lulusan fakultas hukum kenamaan ibu kota ini seperti kerbau dicocok hidungnya. Mengikuti saja kebiasaan yang kebenarannya sangat sangat dipertanyakan. Seorang Sarjana Hukum, calon advokat Indonesia masa depan, mau saja mengikuti tahayul. Dalam hati aku tertawa. “Hehehe…masa bodoh!! Sekali-kali, boleh donk..!!”

Aku mulai melakukannya, hal bodoh itu. Meletakkan bulu mataku yang jatuh ke atas tanganku. Dan mulailah aku menepuk tangan sambil beriring ejaan huruf A-Z, persis seperti anak sekolah Taman Kanak-Kanak.

Tapi, “Ups! Jatuh.”. Aku setengah berteriak.

“Bagaimana ini, apa tafsirnya, bila belum sempat berpindah ke telapak tangan yang lain, bulu matanya jatuh ke lantai?”, Aku bertanya sendiri dalam kebodohanku.

“Ah, peduli amat. Yang penting kan berpindah. Nah, jatuh artinya juga pindah. Jadi, tadi aku berhenti di huruf apa? G, H, I, atau J ya? Ah, bukan bukan. Tadi di huruf K.  Iya, benar. Pasti K. Aku yakin K.”

Aku mulai menggunakan keahlianku, melakukan penyelidikan. Ini juga sering kulakukan jika masalah besar tengah menimpaku. Aku akan melakukan penyelidikan dari hal-hal yang paling kecil kulakukan, hal besar hingga hal yang mustahil untuk aku lakukan. Tapi yang ini beda. Beda tipis, tapi jauh. Antara badai gurun dan badai laut.

Aku mulai menulis nama apapun dan siapapun yang memiliki awalan dengan huruf K.

Kenanga, teman Sekolah Dasarku. Korie, salah satu nama tokoh dalam novel Salah Asuhan. Kejora, nama bintang. Kerbau, nama binatang. Kirana, teman sebangku waktu kuliah. Kudus, julukan temanku waktu SMU. Kinanti.

Nah, yang ini aku lupa siapa dia. Teman TK, SD, SMP, SMU, kuliah sepertinya tidak ada yang namanya demikian. Bintang iklan, artis kenamaan, pemain sepak bola, pebasket nasional dan internasional juga bukan. Nama sutradara sejagat juga tidak mungkin. Mana ada nama kampungan begitu jadi sutradara sekelas Hollywood.

“Aaaarrrgh!!!”, aku berteriak kecil. Malu kalau-kalau di dengar tetangga. Meskipun hari libur, aku juga masih punya sopan dan santun terhadap tetangga. Istilah kerennya tenggang rasa.

“Kinanti”, aku mengulang melafalkan namanya. Toko obat, toko jamu, atau warteg mana yang pernah kusinggahi dengan nama itu. Absurd. Nihil. Tidak ada satupun nama itu dalam otakku. Mungkin ukurannya terlalu besar untuk kutampung dalam memoriku.

“Konyol”, aku memaki diri sendiri sambil mengambil Koran pagi ini. Hari yang konyol, pikiran konyol, kelakukan juga konyol.

Kubuka halaman per halaman Koran yang kupegang. Seperti biasa, berita yang selalu menarik perhatianku adalah berkenaan masalah politik dan hukum. Meskipun sudah bisa dipastikan isi beritanya apa, tapi aku tetap membiasakan diri untuk membacanya. Disamping memperbarui informasi, juga sebagai persiapan kalau-kalau ada teman sejawat yang mengajak debat warung kopi. Debat tanpa ujung dan tidak ada kesimpulannya.

Baca Juga :   Santri Adalah Pilar Bangsa

Selesai membaca bahasan politik dan hukum yang sedikit membutuhkan pemikiran saat membacanya. Aku berhenti pada satu kolom, budaya. Kolom kesukaanku semenjak masuk SMU. Terutama cerita pendek. Di samping bahasanya santai juga tidak memerlukan menguras otak untuk mendapatkan ide dasarnya. Aku suka menebak amanat penulis. Itu saja.

Selesai memelototi koran, aku beranjak dari kursi malasku. Aku berdiri menopang tubuhku yang sedikit maju ke depan dengan kedua tanganku memegangi pagar kecil di dipanku. Pandanganku tertuju pada alun-alun kecil di komplek perumahanku.

Meskipun tidak luas, tapi tidak pernah sepi. Apalagi saat hari libur seperti ini. Mulai dari anak yang belum berumur alias masih dalam kandungan, sampai yang rambut hitamnya bisa dihitung dengan jari tangan semuanya berkumpul di sini. Jadilah alun-alun di depan rumahku seperti bumi perkemahan. Untungnya, kebersihannya selalu terjaga. Jadi tidak membuat hatiku mengumpat. Karena aku paling tidak suka melihat sampah ada di mana-mana. Kebersihan, bagiku, bukan sekedar kebersihan diri. Tapi juga lingkungan dan tempat tinggal.

Tapi, aku belum juga dapat melupakan kekonyolanku tadi. Aku masih penasaran dengan nama Kinanti yang tiba-tiba saja ada dalam ingatanku. Tokoh politik bukan, penulis buku hukum juga tidak pernah kutemui dengan nama demikian. Aku pernah berkunjung ke kota mana, sehingga mendapatkan nama demikian? Aku mulai mengingat kota-kota kecil dan besar yang sempat kusinggahi, meskipun di antaranya hanya mampir membeli minum dan camilan.

Aku mulai dari kota tempatku kini berasal, Jakarta. Bandung, Bogor, Bekasi, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Bali, Bandar Lampung, Bukit Tinggi, Nanggroe Aceh Darussalam. Apa iya, Papua. Tidak tidak. Tidak mungkin Papua. Nama seperti itu adalah keturunan Jawa.

Nama-nama melayu biasanya diakhiri dengan Wati atau Syah. Kalau pulau timur Indonesia biasanya namanya sedikit kebarat-baratan. Nah, Kinanti ini sedikit membingungkan. Antara melayu atau Jawa. Tapi sepertinya Jawa. Aku yakin itu.

Aku mulai lagi memutar otak, membuka memori kecilku yang tidak mampu mengingat terlalu berlebih. Kali ini lebih fokus pada satu hal, nama dan orang yang pernah kutemui. Mulai dari Bu De, Bu Lek, Mbah Putri, keponakan, sampai pada guru les Fisika ku. Sama saja, tidak ada dalam pikiranku.

Sebenarnya akupun keturunan Jawa. Ayahku Betawi, ibuku Rembang. Aku lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga ayahku, jadi sedikit tidak paham dengan budaya yang ada di lingkungan keluarga ibuku. Menurut pengakuannya, namaku diambil dari nama kakek buyutku di Rembang.

Menurutnya, aku mirip dengan kakek buyutku. Entah mirip apa dan dari mananya, aku juga tidak terlalu memedulikannya. Tapi, kuakui namaku memang keren. Bahkan kalau boleh sedikit sombong, setiap orang yang menyebut namaku akan mengatakan, “Ksatria”. Namaku, Abimanyu.

“Astaghfirullahal adziem!!! Kinanti. Ki..nan..ti Itu..itu kan… Iya, benar. Aku ingat sekarang. Ya Allah, terima kasih Tuhan. Itu kan nama ibuku.”

“Alangkah berdosanya aku jadi seorang anak, bahkan nama ibuku sendiri aku tidak mengingatnya. Ampuni aku ibu”

Aku menarik napas panjang. Kuulangi sekali lagi. Lebih panjang. Aku menatap langit, matahari sudah mulai naik. Perkiraanku mengatakan, hampir pukul 09.00. Artinya, sudah tidak lagi pagi. Masih dengan perasaan bersalah, aku masuk ke dalam rumahku.

Sudah hampir enam bulan ini aku tidak mengunjungi ibuku. Kesibukan ini telah menjadi senjata pembunuh bagiku, sehingga untuk berkunjung ke sanak dan keluarga pun harus tergadaikan. Untung hari libur, jadi hari ini aku bisa memohon maaf pada ibu atas keteledoranku tidak mengingat namanya.

Ibuku memang wanita Jawa. Tidak perlu mengetahui namanya, dari dandanan dan wajahnya, semua orang pasti sudah bisa menebak kalau ibuku adalah keturunan Jawa. Wajah yang khas. Sosok yang aku telah dilahirkan dari rahimnya. Ibu, ampuni aku.

Baca Juga :   Kartini di Pentas Demokrasi

Aku mandi cepat sekali. Berganti dan memilih pakaian spesial. Kali ini, aku ingin terlihat seperti ksatria di depan ibuku. Aku yakin, aku gagah hari ini. Ibu pasti bangga. Anak yang selalu membuat tidur malamnya selalu singkat di waktu kecil, hari ini sudah besar.

Aku menuju garasi. Aku memilih vespa biruku untuk kukendarai hari ini. Kata orang, orang yang paling sabar dan paling setia di dunia ini adalah orang-orang yang mengendarai motor vespa. Masuk akal juga, karena tidak semua orang mencintai vespa maka ia dikategorikan setia. Kalau disebut sabar, karena seseorang yang mengendarai vespa jarang sekali ngebut di jalanan.

Jarak antara rumahku dengan kediaman ibu cukup jauh. Ibu tinggal di Bekasi, Pondok Gede. Berdekatan dengan asrama haji. Tidak mengapa jauh, yang penting niat yang kutanamkan. Aku ingin berkunjung padanya. Aku ingin meminta maaf padanya. Aku ingin bersenda gurau dengannya. Aku ingin kembali memanjakan diri bersamanya.

Di jalan, aku mampir di toko bunga langgananku. Ibuku sangat menyenangi melati. Aku membelikannya seikat melati, lengkap dengan kartu permohonan maaf dariku.

Aku tiba di rumahnya. Aku mengucapkan salam padanya. Lama aku duduk di hadapannya. Aku menundukkan kepala, berharap ia dapat membelai rambutku seperti dahulu.

“Ibu, anakmu datang. Abimanyu, bu”. Aku mulai membuka pembicaraan.

“Ini, aku bawakan bunga kesayangan ibu. Bunga Melati”, kuletakkan tepat di sebelahnya.

“Aku sekarang sudah kerja, bu. Jadi advokat cilik. Anakmu seorang pengacara, bu. Mimpi ibu tercapai, memiliki anak seorang pengacara. Ibu bangga kan sama aku?”

“Dulu, ibu pernah berpesan padaku. Tidak apa-apa dimulai dari sesuatu yang terlihat kecil, yang penting hasilnya nanti. Semuanya tergantung kesungguhan dan usahamu. Begitu kan, bu. Aku masih ingat, bu. Ingat sekali.”

“Tapi, hari ini aku melupakan satu hal, bu. Aku lupa nama ibu. Aku lupa kalau nama ibuku, manusia mulia yang memperjuangkan hidup mati kelahiranku bernama Kinanti. Aku minta maaf, bu. Sungguh, aku minta maaf.”

“Mulai saat ini, aku akan menulis nama ibu di setiap lembaran buku agendaku. Aku akan memajang nama ibu di dinding kantorku, di kamarku, dan di setiap ruangan yang aku ingin selalu bersama ibu. Agar aku tidak lupa lagi dengan nama ibu”

“Ibu sehat kan di sini? Ibu baik-baik saja kan di sini?”

Aku ingin sekali menangis. Dadaku sudah sesak. Mataku sudah berkaca-kaca. Tapi, kutahan tangisku. Aku ingin terlihat gagah di hadapan ibu. Kutarik lagi napas panjang, lebih panjang dari biasanya. Aku menenangkan diri. Hingga mataku tak lagi berkaca.

Aku mencabuti rumput-rumput kecil yang tumbuh di pusara ibuku. aku pegang nisan yang bertuliskan namanya. Aku membelai pusaranya, sebagaimana ia membelaiku saat mengantarkanku tidur.

Di sini damai sekali. Tidak ada suara keramaian yang memekakkan telinga. Tidak ada pikiran akan kesibukan kerja. Aku yakin ibuku mendengar setiap ucapanku tadi. Mungkin saat ini ia tengah tersenyum. Aku yakin ia bangga padaku.

Setelah berpamitan, aku menuju ke tempat vespaku diparkir. Aku merasakan ada sesuatu di mataku. Bulu mataku jatuh lagi. Sambil tersenyum, aku mengulangi kekonyolanku tadi pagi. Aku meletakkannya di telapak tangan kiriku. Aku mulai menepuk dan melafalkan huruf A sampai Z. Dan, pada huruf L, bulu mataku berpindah ke telapak tangan kananku. Aku tersenyum. Siapa lagikah yang memiliki awalan nama L dalam hidupku?

Bengkulu, Oktober 2017

*) Liza Wahyuninto, Cerpenis adalah Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan dan Sebagai Mabincab PMII Cabang Bengkulu Selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here