Pemerintah Sumatera Selatan
Beranda Refleksi Bersatu Lawan Covid 19

Bersatu Lawan Covid 19

Tanggal : Pukul :
305
0
Bersatu Lawan Covid 19
Oleh: Prasetyo Nugraha

Setelah diumumkannya oleh Chinese Center for Disease Control and Prevention bahwa ditemukan coronavirus baru (SARS-CoV-2), sebagai penyebab penyakit pernafasan yang sedang diderita oleh banyak umat manusia di dunia yang dimulai dari Wuhan, China., dipenghujung tahun 2019 lalu hingga sekarang ini penyebarannya semakin mengganas.


Coronavirus baru tersebut yang diberi nama Coronavirus Disease 2019 (Covid 19) kecepatan penyebarannya sangat massif dan sporadik, namun meluas. bahkan World Health Organization (WHO) secara resmi menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global

Virus semakin menyebar hingga menimbulkan kegemparan, Sehingga tidak ada negara dibelahan bumi manapun tidak disasar oleh Covid 19 tersebut. Geraknya yang cepat dan mematikan membuat respon banyak negara mengeluarkan kebijakan redikal.

Beragam kebijakan diambil sebagai bentuk kedaruratan suatu negara menghadapi bahaya Covid 19, di mulai dari social distancing, travel ban, state of emergency sampai dengan lockdown. Semua kebijakan tersebut ditempuh oleh pemerintah di banyak negara sebagai langkah mengantisipasi meluasnya penyebaran virus corona, tidak terkecuali Indonesia.

Dampak Covid 19

Dalam memasuki catur wulan pertama Covid 19 kondisi dunia semakin parah, penyebarannya semakin tidak terkendali. Jika diilustrasikan ke dalam cerita,  kondisi dunia saat ini sudah laik dikatakan persis seperti film-film hollywood.

Sebut saja Contagion, Resident Evil, World War Z dan, atau The Flu yang benderang menceritakan wabah virus mirip corona melanda China dan Indonesia. Film-film fiktif yang dirilis pada tahun-tahun belakang tersebut seakan menceritakan sebuah kenyataan pada masa kini.

Di mana dalam adegan-adegannya memberitakan keperihatinan, keterputusasaan, dan ketakutan. Banyak kota-kota dibuat mati karenanya, aktifitas perekonomian lumpuh total, penjarahan dimana-mana, siapapun warga yang ingin berkumpul walauhalnya untuk melakukan periberibadatan, sudah tidak ada keberanian, karena virus begitu cepat menular dan mematikan.  Virus yang menyebar dari manusia ke manusia dimaksud, membuat banyak warga memilih mengisolasi diri.

Nampak nyata, dampak yang diakibatkan dari Covid 19. Pasca satu minggu saja pemerintahan Jokowi-Amin meliburkan sekolah dan merumahkan aparatur sipil negara, inflasi ekonomi sudah mengkhwatirkan; nilai tukar rupiah melemah, pasar saham anjlok, harga bahan pokok merangkak naik, suplay bahan pokok terhambat dan produksi menurun.

Baca Juga :   Penguatan E-commerce sebagai Penyokong Ekonomi

Belum lagi watak kapitalistik, dalam kondisi darurat masih mengambil utung-rugi demi mengakumalasi modal. Selain itu, kepanikan massa, dari aksi memborong (panic buying) hingga menimbun barang sebagaimana dialami banyak negara sebagai ekses psikis penyebaran virus corona.

Demikian bahaya laten Covid 19. Sekali lagi, ini masih catur wulan pertama. Namun fluktuasi virus corona masih terus mengalami peningkatan, artinya jika tidak cepat tertanggulangi ekses bahaya latennya akan semakin membesar dan meluas

Secara grafik, penularan Covid 19 belum mengalami puncaknya, sebagaimana dalam New York Times , pekan lalu menurunkan tulisan Worst-Case Estimate for Coronavirus Deaths.

Dalam tulisannya memuat hasil pertemuan 50 ahli pandemik internasional dari berbagai universitas dan negara. Mereka berkumpul membuat suatu kajian berdasarkan data dan fakta – kecepatan penyebaran – dan asumsi tidak ada perubahan penangan yang berarti, maka 50 – 70 persen populasi dunia akan terpapar virus corona dan 1 persennya akan mati.

Tulisan yang cukup menyentak dan menggetarkan jagat raya, jika teori ini teraplikasikan di dalam Indonesia maka dengan tolal lebih kurang 250 juta warga negara Indonesia, artinya 125 juta warga akan terpapar virus corona. dan sekitar 1,25 juta jiwa warga menjadi korban kematian.

Bersatu Lawan Coronavirus

Sekaliber New York Times, tentu tidak serampangan dalam menurunkan tulisan ke dalam kolom beritanya, 50 – 70 persen ini adalah skenario terburuk dan disasar adalah negara Amerika selaku kampiun dunia.

Harus ada perubahan dalam pencegahan dan penangan atas pandemi global tersebut. Tidak perlu saling mengandalkan apalagi menyalahkan, siapa dan negara mana yang bertanggung jawab. Seluruh warga dunia, tanpa dibatasi benua, negara apalagi bahasa dan warna kulit, semua harus bahu membahu melawan Covid 19 yang telah menghantui ummat manusia.

Dengan modal keyakinan masing-masing, Kita berdoa agar kecerdasan manusia segera menumpas virus corona sebelum ia mencapai puncak penyebarannya. Diilhami adegan film-film di atas, perlawan virus dilakukan dengan anti virus atau vaksin sebagai obat untuk menyembuhkan orang-orang yang terpapar virus, dan atau dibuat kamuflase untuk digunakan oleh manusia yang belum terpapar agar dapat mempertahankan diri atau untuk melawan serta terbebas dari virus pandemi tersebut.

Baca Juga :   Bekali Personel dengan Baju Safety Penanganan Covid 19 Saat Pelaksanaan Operasi SAR

Namun, dengan perinsip kehati-hatian, di balik sebuah musibah pasti ada biang keladi yang menyelam sambil minum air yang pasti tujuannya untuk kepentingan diri dan kelompok sendiri, membuat keributan dan membutakan mata hati dan pikiran kita. Maka hadapi Coronavirus ini dengan bijaksana dan cerdik tanpa harus memporak poranda kan kehidupan kita sehari-hari; bekerja, mengajar, belajar, mencari nafkah, bersilaturahmi, beribadah, bergembira, pesta, hajatan, berwisata dan lain sebagainya.

Melindungi diri dan keluarga sendiri adalah sangat benar dan penting, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Tahu pun mengajarkan kita demikian, namun jangan sampai kita menjaga jarak diantara tetangga dan masyarakat lainnya, tanpa sadar kita akan kehilangan cinta kasih dalam hidup karena tidak ada lagi, peluk cium, cium tangan, mengelus dahi anak dan cucu, bersentuhan dengan orang yang kita muliakan, rangkul kangen, saying good bye with kiss dan lain sebagainya.

Karena sebetulnya keindahan itulah yang membuat kita bertahan dalam hidup dan kuat berjuang menghadapi masalah, salah satu nya penyakit.

Kita adalah bangsa timur, tempat matahari terbit. Tidak ada yang tidak terbakar dihadapan terik matahari, apalagi sekedar virus. Dua belas jam matahari mengitari bumi kita, artinya masih besar harapan kita bersama melawan pandemi global tersebut.

Mari kita beristiqfaar dan mohon ampun, semoga kita semua bersama-sama pemerintah, hand in hand, diberikan jalan yang terbaik untuk menanggulangi sakit dan penyakit Coronavirus ini secara cepat dan tepat.

Inshaa Allah segala usaha dan kebaikan yang kita lakukan membawa manfaat bagi bangsa, negara dan dunia kita, amin YRA.


Penulis: Prasetyo Nugraha

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here