Beranda Refleksi Berpendidikan Tapi Tidak Terdidik

Berpendidikan Tapi Tidak Terdidik

Tanggal : Pukul :
789
0
Berpendidikan Tapi Tidak Terdidik - Elly Sumantri
Berpendidikan Tapi Tidak Terdidik - Elly Sumantri

PERNAHKAH Anda merasakan saat berkendara tiba-tiba ada yang melemparkan sampah dari dalam mobil atau dari atas motor? Saya rasa kita semua pernah merasakannya. Atau jangan-jangan kita sendiri yang pernah menjadi pelakunya. Coba bayangkan ketika Anda melemparkan sesuatu tersebut tiba-tiba ada orang yang lewat dan mengenai orang tersebut. Ada banyak lemungkinan yang terjadi. Jelas sang korban tidak akan suka. Kemungkinan pertama adalah orang tersebut diam saja tapi hatinya mendongkol. Kedua, sang korban meluapkan emosinya sehingga memicu pertengkaran bahkan perkelahian. Ketiga, bisa mengakibatkan jatihnya korban jiwa.

Suatu saat saya pernah berkendara, tiba-tiba seseorang dengan santainya meludah dari tengah-tengah jalan tanpa melihat apakah ada orang lain di belakangnya. Kejadian ini tidak sekali dua kali terjadi. Parahnya, sang pelaku yang ditegur oleh si korban justeru marah-marah.

Menjaga etika berkendara sangat dibutuhkan. Terkadang pelaku cow boy dalam berkendara ini justeru adalah mereka-mereka yang berpendidikan tinggi bahkan sampai para pejabat. Istilah saya yang ditulis menjadi judul opini adalah berpendidikan tapi tidak terdidik. Sekolahnya tinggi tapi mental tidak terbangun dengan baik.

Mental yang terdidik tentu melalui penempaan yang baik dengan teladan yang baik pula. Saya contohkan dalam hal membuang sampah. Dulu saat saya berada di bangku SMP, kami diajarkan hidup disiplin yang sangat ketat. Semuanya diatur mulai dari penggunaan bahasa hingga membuang sampah. Sedikit saja kita menjatuhkan sampah tidak pada tempatnya, walaupun hanya sebagian potongan bungkus permen maka bersiaplah untuk mendapatkan hukuman. Tidak tanggung-tanggung, denda yang bisa menghabiskan uang jajan sampai membersihkan lahan sekolah yang luasnya 35 hektare.

Baca Juga :   Mengkritisi Pilkada 2018: Masihkah Afirmasi Keterwakilan Perempuan Mendapat Tempat?

Mungkin saat itu kami yang dididik seperti ini tidak mengerti dan menganggap hukumannya terlalu berat dan kejam. Tapi saat ini barulah dirasakan dampak positifnya. Bukan hanya soal membuang sampah tapi ternyata penerapan disiplin tersebut berefek pada pembentukan mental. Sekarang, disipilin itu saya tularkan kepada anak-anak. Mereka harus membuang sampah pada tempat yang sudah disiapkan. Jika tidak ditemukan tempat sampah, mereka harus menyimpan, memasukan sementara waktu ke saku pakaian.

Satu lagi ketika berkendara, jika ingin meludah saya akan menepi ke kiri, melihat kebelakang dan meludah ke sebelah kiri. Itulah etika meludah di tempat umum. Sederhana bukan dan tidak sulit.

Mari sepadankan tingkat pendidikan dengan mental kita. Dengan hal-hal kecil seperti di atas justeru akan menjadikan hidup kita lebih baik. Saya teringat sebuah kisah seorang anak Indonesia yang lahir dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di Perancis. Suatu ketika dia kembali ke Indonesia bersama orang tuanya. Saat berjalan-jalan dia mengantongi bungkus permen yang isinya sudah dimakan. Sepupunya yang memang lahir dan besar di Indonesia lantas menyarankan untuk membuang saja bungkus permen tersebut. Jawaban sang anak sungguh mengagetkan, dia takut banjir. Bayangkan, hanya karena satu bungkus permen seorang anak takut terjadi banjir.

Baca Juga :   Budaya Baca dan Masa Depan Pembangunan Manusia

Jika setiap orang berpikir sama dengan sang anak, tentu lingkungan kita akan bersih, bebas banjir, bebas polusi udara, dan sebagainya. Namun jika sebaliknya, mereka menganggap hanya satu bungkus permen saja dan ternyata hampir semua orang berpikir sama, maka jadilah sampah yang menggunung atau mengalir memenuhi sungai, selokan, menjadikan sungai dangkal, air tersumbat, air menggenang, bau busuk dan banjir.

Dengan beretika di jalan raya, kita justeru meminimalisasi dampak buruknya. Misal, jika kita berpikir membuang sampah atau berludah di jalan raya dapat mengenai pengendara lain, tentu dampak buruk seperti pertengkaran, perkelahian hingga kecelakaan lalu lintas dapat dihindari.

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Forum Kader Pengembangan Moral Etika Pemuda Indonesia

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here