Pemerintah Kabupaten Banyuasin Siap Menyukseskan Asian Games Tahun 2018

Berguru kepada Nabi Ibrahim AS: MEMBENTUK KEPRIBADIAN MULIA

0
37
Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE Rektor (Universitas Sriwijaya)
Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE Rektor (Universitas Sriwijaya)

MAHA Suci Allah, Robbul ‘Alamin, Tuhan yang telah menciptakan Alam Semesta dengan segala isi yang ada didalamnya dengan sempurna, baik yang berada di udaran, di daratan, di lautan, maupun khasanah lainnya yang berada di Alam Semesta ini, Semuanya diperuntukkan bagi Manusia.

Pada kesempatan yang mulia ini, dan dihari yang penuh dengan Barokah ini, saya berseru kepada diri saya sendiri dan kepada Ma’syirol hadirin agar kita slalu menjaga keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar Iman dan Takwa.

Allah Maha Agung, Marilah kita tunduk kepada Nya dan dalam pengakuan yang tulus ikhlas pula kita mengagungkan Asma Nya. Dialah yang menciptakan bumi tempat kita berpijak, memuliakan kita manusia sebagai makhluk paling sempurna, serta menjadikan kita sebagai Khalifah di muka bumi Allah yang kita cintai ini.

Pada pagi yang mulia ini, kita dan berjuta-juta Ummat Islam Jama’ah Haji dari seluruh Dunia, sa’at ini berkumpul memadati Mina beribadah dengan penuh kegembiraan dengan ber-Takbir, ber-Tahlil dan ber-Tahmid, seraya meng-Agungkan, mem-Bersarkan, serta me-Muliakan nama Allah S.W.T setelah selesai melaksanakan Wukuf di Padang ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Kitapun sa’at ini ikut beribadah mengucap Takbir. Tahlil, dan Tahmid Meng Agungkan Asma’ Allah.

Selama empat hari berturut-turut dalam Bulan Hajji ini mulai hari ini dan Hari Tasyrik Ummat Islam diharamkan untuk berpuasa, sebagai ungkapan penghormatan kita kepada sa’at jema’ah Hajji melaksanakan Jumroh Mina. Ketahuilah bahwa setiap pekerjaan yang diperintahkan oleh Allah S.W.T mestilah bersamanya ada isyariat, pesan, dan pembelajaran. Demikian juga Syari’at ‘Idul-Adha jelas membawa bersamanya banyak pesan dan pengajaran bagi Ummat Islam.

Kalimat takbir yang dilantunkan bukan suatu kalimah biasa saja, melainkan sebaliknya, mampu menyuntik semangat perjuangan dalam menghadapi berbagai masalah dan ujian dalam kehidupan yang harus kita hadapi sebagai bentuk pengujian terhadap keimanan dan ketundukan kita kepada Allah SWT.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah SWT,

Idul Adha disebut juga hari Raya Kurban di mana mulai hari raya 10 Dzulhijjah hingga berakhirnya hari Tasyriq 13 Dzulhijjah maka kita di haramkan untuk berpusa serta kita disunahkan untuk melakukan ibadah Kurban dengan menyembelih hewan ternak Kambing, Sapi, maupun Onta.

Diantara Hikmah melakukan ibadah Kurban ini adalah untuk memupuk semangat hidup agar terbiasa dan sanggup ber-Kurban demi meninggikan syiar Agama Allah serta menghilangkan rasa terlalu sayang pada harta dan kesenangan dunia. Demikian tuntunan Islam untuk Ummat, Tanpa didikan dan bimbingan Agama, maka agak sulit bagi kita untuk melakukan pengorbanan pengorbanan yang lainnya, terutama untuk kepentingan dalam melaksanakan perintah Allah SWT di muka bumi ini.

Idul Adha senantiasa mengingatkan kita akan ujian dan pengorbanan besar yang telah dilakukan oleh Nabi Allah Ibrahim AS. yang sejak kecil telah berhadapan dengan para Pembuat dan Penyembah Berhala yang mengakibatkan beliau dibakar oleh Raja Namrud yang kejam dikarenakan telah menghancurkan berhala sesembahan Kerajaan tersebut. Pada Sa’at dikurniai Zurriyat yang beliau dapatkan setelah memasuki usia lanjut melalui istrinya Siti Hajar, Nabi Ibrahim AS diminta pula meninggalkan istrinya Siti Hajar bersama anaknya Isma’il AS yang masih kecil di bumi Mekkah yang gersang. Kemudian datang pula isyarat ujian yang lebih besar dari Allah SWT agar nabi Ibrahim AS menyembelih anak kesayangannya Isma’il AS yang baru menginjak Remaja, seperti yang difirmankan Allah dalam Al Qur-an surah As-Shoffat 102:

Artinya : “Maka tatkala Isma’il sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. As-Shoffat 102).

Disini Nabi Ibrahim AS mencontohkan kepada kita semua untuk selalu berkomunikasi bermusywarah kepada Anak-anak kita. Apabila ada suatu masalah bicarakanlah dengan mereka secara baik baik. Tidaklah kita menggunakan egoisme kita sebagai orang tua yang hanya memberikan instruksi-instruksi saja, akan tetapi ajaklah mereka ber musyawarah serta berdiskusi secara baik-baik tanpa mengurangi kedudukan hukum kita sebagai orang tua dan anak.

Setelah mendengar apa yang diutarakan oleh Nabi Ibrahim AS untuk meminta pendapatnya, maka Isma’il pun menerimanya dengan tenang atas dasar taqwa kepada Allah SWT, beliau tidak membantah dan complain sama sekali kepada Ayahnya dan beliau menjawab:

Artinya: Nabi Isma’il menjawab: …..”Wahai bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala kedua nya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), maka nyatalah kesabaran keduanya. (QS. As-Shoffat 103).

Ini menggambarkan kepada kita semua tentang ketaqwaan dan pengorbanan besar yang telah ditunjukkan oleh Nabi Allah Ibrahim AS dalam melaksanakan perintah Allah melalui mimpi yang benar agar melakukan suatu diluar kewajaran manusia yaitu menyembelih anak kersayangannya Isma’il maka ia laksanakan tanpa banyak bicara dan bantahan, sehingga Nabi Ibrahim AS dinyatakan Lulus oleh Allah SWT seperti yang dijelaskan dalam Firman Allah SWT dalam Surah As-Shoffat 104-111:

Artinya : “Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim (104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (108), (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim” (109), Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (110). Sesungguhnya ia Termasuk hamba-hamba Kami yang beriman (111).

Setelah melalui ujian yang banyak dan berat ini barulah nabi Ibrahim AS diangkat oleh Allah SWT sebagai Imam bagi umat manusia yang diikuti juga dengan Zuriatan Thayyibatan yang Soleh Ismail AS yang juga manjadi nabi dan banyak menghasilkan para Rasul termasuk junjungan nabi besar Muhammad SAW. Pengorbanan beliau diabadikan Allah SWT dalam Ibadah Hajji, yang tidak akan sirna hingga akhir zaman. Nabi Irahim pun mendapat Gelar; “Khalilullah = Kesayangan Allah)

Baca Juga :   Konstruksi Harus Diantisipasi Sejak Awal Pembangunan

Akhlaq mulia tercermin dari jawaban Ismail AS yang meskipun begitu siap untuk melaksanakan perintah Allah SWT berupa penyembelihan dirinya, namun ia tidak mengklaim dirinya sebagai orang yang paling baik atau paling sabar, tapi ia merasa hanyalah bagian dari orang-orang yang sabar.

Melalui ujian dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Allah Ibrahim AS maka kita sebagai umat Islam yang mengaku beriman wajib mencontohinya terutama dalam menghadapi bala’ atau ujian yang menimpa kita dan juga mesti melakukan pengorbanan sebatas kemampuan yang ada pada kita untuk Ummat dan Agama Allah SWT.

Ma’asyirol Muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah SWT,

Para Era kehidupan yang Global sekarang ini, sesungguhnya kita perlu mendidik anak-anak bangsa yang cerdas, kreatif, dan mempunyai perilaku yang baik menjadi Insan Kamil, yang berkualitas dan bermarwah. kita sadari bahwa masalah Etika dan Akhlaq yang semakin terpuruk, Marwah bangsa yang semakin tersuruk, serta kepedulian sesama kita yang semakin buruk, memang harus kita perbaiki bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa. Kita tidak boleh salin salahkan satu sama lain, jangan mau diadu domba, kita bangun kehidupan masyarakat kita dengan kehidupan Masyarakat Madani, secara jujur, adil, dan  bertindak atas dasar kepentingan Ummat, Bangsa, dan Negara.

Negara kita adalah Negara yang Kaya, dan Makmur, yang penuh dengan Rahmat, dan Nikmat, yang berlimpah. Banyak kelompok-kelompok baik dari luar maupun dalam negeri yang ingin merongrong, merampok harta dan kekayaan Alam Negara kita  dengan berbagai macam cara. Ada pula kelompok-kelompok lain tidak menyukai kalau negara kita ini dalam keadaan kacau balau, sehingga mereka dapat memetik keuntungan dibalik itu semua.

Negara kita sudah beberapa kali coba untuk dihancurkan oleh kelompok-kelompok orang yang tidak senang dengan kehidupan negara kita yang tenang dan tentram. Mereka melakukan berbagai macam cara baik melalui teror maupun upaya pengubahan ideologi negara dengan berbagai cara-cara.

Untuk itu Kita sebagai ummat Islam Wajib merapatkan barisan, memperkuat Ukhuwwah menjaga Bangsa dan Negara kita ini dan menghalau keinginan-keinginan yg busuk tersebut.

Kaum Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah SWT,

Dalam suasana ‘Idul Adha ini, Banyak sekali prinsip-prinsip hidup yang dapat kita pelajari dari kehidupan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Paling tidak, ada Lima konsep prinsip hidup yang dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat dan bangsa.

Pertama, Berdoa.

Salah satu yang amat penting untuk kita lakukan dalam hidup ini adalah berdoa kepada Allah SWT. Doa bukan hanya menunjukkan kita merendahkan diri kepada Allah, tapi memang kita merasa betul-betul memerlukan bantuan dan pertolongan-Nya, karena Allah adalah segala-galanya, sedangkan kita amat memerlukan dan tergantung kepada-Nya. Di antara doa Nabi Ibrahim AS adalah agar negeri yang ditempati diri dan keluarganya dalam keadaan aman . Allah SWT berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim as:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS Ibrahim 35).

Selain itu, Nabi Ibrahim juga berdoa agar selain aman, negeri ini juga diberikan rizki yang cukup, doa yang dimaksud dikemukakan Allah SWT:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah : 126)

Berdoa kepada Allah SWT adalah untuk kepentingan bersama adalah hal yang mulia, dan apabila dilakukan secara berjama’ah, Insya Allah aka mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

Dalam konteks kehidupan negara kita yang mengalami krisis, maka sudah seharusnya kita berdoa untuk kebaikan negeri kita agar menjadi negeri yang aman sentosa dan para pemimpin kita diberi petunjuk dan mau menerima petunjuk jalan hidup yang benar agar bisa melaksanakan tugas kepemimpinan dengan benar.

Kedua: Kekuatan ekonomi

Cara mendapatkan hasil Ekonomi dapat kita ambil pelajaran dari Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya yang mau berusaha untuk mencari rizki yang halal. Kesulitan hidup tidak dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara dalam mencari harta, apalagi kalau kita kita lihat generasi terdahulu lebih sesulit dalam memperoleh rizki. Keyakinan bahwa Allah punya maksud baik dan rizki di tangan-Nya seharusnya membuat manusia mau berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Siti Hajar berusaha mencari rizki yang dalam rangkaian ibadah haji disebut dengan sa’i. Oleh karena itu Allah swt senang kepada siapa saja yang berusaha secara halal meskipun harus dengan susah payah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambanya lelah dalam mencari yang halal (HR. Ad Dailami).

Ketiga; Kekuatan Iman, Taqwa kepada Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS telah mencontohkan kepada kita bahwa Aqidah sangat melekat pada jiwa, tegar menghidar dari kemusyrikan mensekutukan Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al Qur-an Suarh Almumtahinah Ayat 4 :

“Sesungguhnya Telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah…”

Diakhir Ayat Nabi Allah Ibrahim AS berdo’a yang do’a ini juga sering kita Baca;

Baca Juga :   Konstruksi Harus Diantisipasi Sejak Awal Pembangunan

“Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” (QS Al Mumtahanah:4).

Salah satu faedah dari aqidah yang kuat akan membuat seorang mukmin memiliki prinsip yang tegas dalam setiap keadaan, dia tidak lupa diri pada saat senang; baik senang karena harta, jabatan, popularitas, pengikut yang banyak maupun kekuatan jasmani. Dia pun tidak putus asa pada saat mengalami penderitaan; baik karena sakit, bencana alam, kekurangan harta maupun berbagai ancaman yang tidak menyenangkan, inilah yang membuatnya menjadi manusia yang mengagumkan, Rasulullah saw bersabda:

Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya (HR. Ahmad dan Muslim).

Ketiga; Akhlaq yang Mulia.

Kondisi Akhlaq Dunia sekarang kita akui sangat  memprihatinkan, Pendidikan Akhlaq dimana-mana sudah jauh dari apa yang diharapkan. Bila ini terus berlangsung, cepat atau lambat yang lemah dan akan hancur bukan hanya diri dan keluarga, akan tapi juga Umat dan Bangsa. Seorang ulama Mesir Imam Ahamd As-Syauqi (1932 M) mengatakan :

Suatu bangsa akan kekal selama berakhlaq, bila akhlaq telah lenyap, lenyaplah bangsa itu. Oleh Karena itu Misi Utama Nabi Muhammad SAW, yang juga merupakan Zurriyat Nabi Ibrahim AS dari Nabi Isma’il AS. adalah memperbaiki Akhlaq menjadi sesuatu yang sangat penting dan strategis.

Dalam ibadah Haji kita mengikuti Jejak Nabi Ibrahim AS. Seluruh rangkaian dari Ibadah Haji yang harus ditunaikan oleh seluruh Ummat Islam adalah menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan kebaikan. Ini dapat kita lihat ambil dari larangan melakukan keburukan bagi jamaah haji dalam firman Allah SWT:

Artinya: (Musim haji) adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengerjakan rafats (perkataan maupun perbuatan yang bersifat seksual), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS Al Baqarah 197)

Keempat, Kekuatan Ummat

Kita harus bangun adalah ukhuwah Islamiyah, antar Ummah, agar salin menjaga dan mengasihi satu sama lain. Dapat dilihat dalam ibadah haji, kaum muslimin dari seluruh dunia dengan berbagai latar belakang yang berbeda bertemu, berkumpul dan beribadah di tempat yang sama, bahkan dengan pakaian yang sama, bersatu tanpa menunjukkkan Ego masing. Ini semua seharusnya sudah cukup untuk memberi pelajaran betapa persaudaraan antar sesama kaum muslimin memang harus kita bangun. Bila ukhuwah Islamiyah terwujud dalam kehidupan kita, maka umat kita akan kuat dan berwibawa. Begitupun sebaliknya kalau ukhuwah umat belum terwujud, maka jadilah umat ini seperti buih di tengah lautan yang terus mengikuti ke mana beriaknya ombak bukan seperti karang yang memecahkan ombak.

Allah swt berfirman:

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS Al Hujurat :10).

Kelima, Menguasai Ilmu Pengetahuan

Kekuatan Umat yang harus kita bangun adalah kekuatan ilmu pengetahuan yang bukan hanya sekadar mencari gelar sarjana, akan tetapi Ilmu yang dapat diaplikasaikan dan diamalkan untuk kepentingan ummat. Itulah sebabnya menuntut Ilmu tidak hanya diwajibkan, akan tapi diberi keutamaan yang amat besar dan banyak. Generasi Nabi Ibrahim AS adalah generasi yang cinta akan ilmu, karena itu ia mencarinya, di manapun ilmu itu berada, tanpa ada perasaan puas dalam mendapatkannya, bahkan ilmu yang didapatnya menyatu ke dalam jiwa, sikap dan tingkah lakunya. Allah swt berfirman:

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi (QS. Shad 45).

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah SWT,

Dari atas mimbar khutbah ’Idul Adha pagi ini saya sebagai Khotib mengajak diri saya sendiri dan kita semua untuk bermuhasabah tentang apa saja yang telah kita perbuat, Kalaulah selama ini kita memang sering kali lupa dan lalai akan aturan dan ketentuan Allah SWT, marilah Kita kembali kepada Allah SWT dengan meminta Ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan,. Sebagai Ummat Islam mari kita jaga Marwah Bangsa kita agar Negara kita menjadi Negara yang Bermartabat dan Disegani oleh Negara lain. Kita perkuat Persatuan, Kesatuan Negara yang Kita Cintai ini, Wabil khusus Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang dan sekitarnya yang sa’at in terus maju dan berkembang dengan pesat. Kita bersama-sama jaga ukhuwwah sesama masyarakat kita agar kota yang kita cintai ini  benar-benar menjadi kota yang berkehidupan Madani, Palembang Darussalam.

Insya Allah dengan niat dan tekad yang bulat akan meningkatkan ke Imanan, ke Taqwaan, dan Akhlaqul Qarimah, maka Rahmat Allah akan segera datang kepada bangsa dan Negara kita ini sesuai  Firman Allah SWT:

Artinya : “Apabila penduduk suatu Negara ber Iman dan ber Taqwa pastilah Kami akan membukakan langit dan bumi, akan tetapi apabila mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka karena sebab usaha (Perbuatan) mereka sendiri”. (QS. Al-A’raf 96)

Amiiin … Amiiinn… Amiiinnn Yaaa Mujibas Saaailiin. (*Disampaikan dalam Khutbah Idul Adha, 10 Dzuhijah 1437 H /12 September 2016 di Masjid Agung Palembang)

Laporan Langsung Wartawan Detik Sumsel, Wirangga, S.Pd.

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE Rektor (Universitas Sriwijaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here