Pemerintah Kabupaten Banyuasin Siap Menyukseskan Asian Games Tahun 2018

Belenggu Hiperealitas Kekuasaan Terhadap Demokrasi

0
49
Belenggu Hiperealitas Kekuasaan Terhadap Demokrasi - Dr. Mohammad Syawaludin
Belenggu Hiperealitas Kekuasaan Terhadap Demokrasi - Dr. Mohammad Syawaludin

JEAN Baudrillard, sosiolog Perancis, pernah mengemukakan dua perilaku mendasar yang akan mendominasi masyarakat dunia di dalam era komunikasi dan teknologi informasi, yakni simulasi dan hiperreality. Apa yang diungkapkan oleh Baudrillard bukannya tanpa alasan akademis dan realitas perilaku modern. Ia melihat bahwa masyarakat modern abad sekarang selalu mengukur pada mode of communication. Maksudnya adalah alat dan cara bagaimana suatu kamunikasi memiliki pengaruh mengikat dan merubah mainset. Terutama pada pengaturan apologetic kekuasaan suatu pemerintahan yang menghindari kritik dan oposisi. Sedangkan teknologi informasi dalam masyarakat modern menciptakan budaya dunia tanda-tanda yang membuat hal fundamental – mengacu pada kenyataan- menjadi kabur atau tidak jelas.

Berbagai cara untuk mengendalikan isi “berita” yang menghujam kekuasaan berkuasa berbicara. Sebut saja mulai dari isu-isu yang mencoba membongkar jati diri sampai isu- isu yang membangun kekuasaan baru di luar kekuasaan berkuasa. Akhirnya itu semua lulur dengan sebuah tanda yang disebut “hoax”. Dari isu-isu tentang “penodaan” yang kemudian disumirkan dengan isu-isu intoleransi bahkan nasionalisme akhirnya berujung pada kekaburan tindakan. Padahal pokok persoalannya sederhana saja yakni ada tindakan penodaan, tidak ada tindakan intoleransi apalagi persolan kesetiaan pada Negara. Isu tentang banyaknya pekerja asal bumi tirai bamboo yang bekerja di bumi pertiwi, dianggap sebagai suatu yang salah bahkan diberitanda sebagai wisma.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Baudrillard, diketika kekuasaan dengan para pendukungnya mampu memaiankan kekuatan komunikasi dan teknologi informasi menjadi alat reproduksi bagi penguasa yang terjadi adalah menyamarkan jarak antara fakta dan informasi, antara informasi dan entertainment, antara entertainment dan ekses-ekses politik. Ini lah yang disebut sebagai Hiperealitas yakni suatu upaya menciptakan satu kondisi yang di dalamnya kepalsuan berbaju dengan keaslian; masa lalu dipatembayankan sebagai masa kini; fakta bersimpang siur dengan rekayasa; fenomena melebur dengan realitas yang dicari-cari keterhubungannya; dusta bersenyawa dengan kebenaran. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu.

Baca Juga :   Calon Tunggal Melawan Tabung Kosong

Bertemunya keadaan dari hiperrealitas dengan penguasaan sangat membahayakan realitas demkokrasi sebab penguasa menjaidkannya sebagai mesin politik yang berlebihan dalam respon realitas dan melahirkan kekuatan partai yang memanfaatkan kekuatan sipil tertentu berpola-pola. Bila disimak pernyataan politik dari ketua partai politik yang mengatakan bahwa siapa saja yang ingin main-main dengan kekuasaan yang sah, akan berhadapan dengan kader kami. Jelas sekali pernyataan tersebut sebagai suatu yang hiperealiti dan membelenggu demokrasi.. Rakyat disuguhkan dengan konsumsi aksen politik yang bukan kebutuhan untuk perubahan tetapi lebih pada pengaruh model-model oligrakhi dan ototarian..

Diketika kerja-kerja kekuasaan meliter diambilalih oleh sipil,kemudian diaplikasikan dalam mengatur pemerintahan secara berlebihan, akan melahirkan apa yang disebut bola-bola kekuasaan, disetiap bola kekuasaan dimainkan oleh penguasa sipil, dimana setiap penguasa ingin memainkan peranan berbeda, akibatnya tak tahu lagi siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin. Sipil dan meliter hanya sebatas “pertanda”, peran sesungguhnya ada dibalik layar. Keadaan seperti ini akan menjadi sangat membahayakan bila orientasi pembangunan yang ada dan massif, hanya seperti pertanda “bola” mengelembung besar, tetapi kosong didalamnya, sama halnya dengan kata-kata “ hidup senang mewah tetapi harus berdarah-darah membayar hutang piutang”. Akibatnya adalah seperti yang dibayangkan oleh Marx “segala sesuatu dari kehidupan ini bisa diukur dengan “nilai guna” yang bisa berproduksi”. Artinya penguasa bisa mengeluarkan berbagai cara untuk menaikan nilai guna agar bisa membayar hutang seperti kebijakan pengampunan pajak, visa, bea cukai bahkan menaikan berbagai kebutuhan pokok lainnya.

Baca Juga :   YA SAMMAN, SIAPA DIA?

Persoalan yang kemudian dihadapi rakyat adalah krisis keadilan dan krisis demokrasi. Keputusan hukum di meja hijau sering menjadi cara melarikan persoalan ke satu titik saja dan tidak menyentuk inti keadilannya. Ketidakadilan itu muncul di berbagai formasi sosial lainnya. Inilah yang ditakutkan oleh Boarduei bahwa kekuasaan yang menjelma menjadi budaya ideology oligarchi sesungguhnya ,menjadi jalan untuk membunuh prinsip-prinsip demokrasi. Menurutnya seorang penguasa tidak perlu menutup media untuk menghentikan kritik, tetapi cukup dengan mengajak media menjadi bagian dari roda penguasa. Bahkan tidak perlu menghancurkan partai oposisi untuk menghentikan kritiknya, tetapi cukup dengan menabur dan menebar isu-isu didalam tubuh partai tersebut agar bisa bekerja sesuai dengan visi penguasa. Karenanya, tidak mengherankan kita semua bila di era yang padat dengan komunikasi dan teknologi informasi ini, entertainment dan ekses-ekses politik menjadi bagian penting dari Hiperealitas. Akibatnya adalah reproduksi kekuasaan dengan cara menarik segala yang dapat menarik minat manusia – seperti pekerjaan, seni, rumah, kebutuhan rumah tangga, ketokohan dan lainnya – ditayangkan melalui berbagai media dengan model- model yang ideal. Disinilah batas antara kenyataan dan kebohongan menjadi tercampur aduk sehingga menciptakan hyperreality dimana yang nyata dan yang tidak nyata menjadi tidak jelas. Masyarakat modern akan disugukan dengan berbagai permaianan relasi kekuasaan dalam panggung bahasa “rakyat” dan dalam tanda “demokrasi”. Semua menjadi berbalik seperti baru-baru terjadi ada “LSM” bisa memecat “penegak hukum” atau sebaliknya ada “politisi” menjadi “pengatur keyakinan ”.

Penulis adalah Dosen Ilmu Sosiologi FISIP UIN Raden Fatah Palembang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here