Beranda Refleksi Agar Membaca Tak hanya Tugas Sekolah

Agar Membaca Tak hanya Tugas Sekolah

Tanggal : Pukul :
429
0
Agar Membaca Tak hanya Tugas Sekolah - Umi Laila Sari
Agar Membaca Tak hanya Tugas Sekolah - Umi Laila Sari

“BANYAK baca, banyak tahu. Banyak ilmu, makin maju.” Tagline yang kerap kali muncul di layar TVRI pada tahun 90-an. Sebagian besar masyarakat memiliki persepsi bahwa membaca adalah tugas sekolah. Jika tidak diberi tugas maka siswa tidak harus membaca. Dan jika telah lulus sekolah tidak ada kewajiban membaca. Aktifitas membaca hanya menghabiskan waktu yang bisa digunakan untuk kegiatan lain. Seolah membaca tidak ada manfaat selain menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Padahal, membaca punya begitu banyak manfaat. Manfaat membaca selain secara intelektual, juga dari sisi sosial, kejiwaan bahkan segi ekonomi. Membaca adalah bagian dari mencari ilmu. Tradisi para ilmuwan. Lihatlah biografi orang-orang besar dengan karyanya bagi peradaban dunia. Mereka adalah orang-orang yang memiliki interaksi tinggi dengan buku. Buku yang dibaca adalah buku lintas disiplin ilmu, buku lintas pengarang hingga buku lintas bahasa.

Indonesia punya Soekarno-Hatta. Bukan saja Proklamator Republik Indonesia, mereka adalah predator buku yang patut ditiru. Misal, Soekarno yang 70 persen barang pribadi miliknya adalah buku. Sedangkan Hatta, dirinya bahkan membawa serta koleksi bukunya yang berlemari-lemari saat dibuang ke pengasingan oleh penjajah. Maka, tak heran jika keduanya mampu melahirkan karya dan pemikiran melegenda.

Seseorang yang ingin mengakses ilmu pengetahuan maka buku adalah jawabannya. Sayangnya, sistem pendidikan nasional belum bisa dikatakan berhasil menjadikan aktifitas membaca sebagai kebiasaan harian siswa. Meskipun sudah ada upaya peningkatan minat baca. Sebagai contoh, diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu perwujudan Permendikbud tersebut adalah wajib membaca 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai, khususnya bagi siswa SD, SMP atau SMA.

Baca Juga :   Indonesia Optimis Capai Target 10 Besar di Asian Games 2018

Minat baca tidak tumbuh dengan sendirinya, perlu stimulus dari lingkungan seperti keluarga dan sekolah. Minat baca berarti adanya keinginan yang kuat dari seseorang untuk menekuni aktifias membaca,  didukung kemampuan memahami bahan bacaannya. Jika di sekolah terbantu dengan beragam tugas dari guru serta adanya peraturan sekolah, bagaimana dengan di lingkup keluarga. Keluarga punya peran strategis menumbuhkan minat baca. Anak yang berasal dari keluarga dengan tradisi membaca akan lebih mudah mengikuti proses belajar di sekolah. Sebab, semakin banyak membaca, akan semakin banyak perbendaharaan kata serta semakin tinggi tingkat kemampuan menganalisa sebuah permasalahan.

Di antara faktor penyebab malasnya membaca buku adalah ‘kesalahan masa lalu’.  Siswa SD bahkan kini sejak PAUD sudah diwajibkan bisa membaca namun lalai terhadap pemahaman bacaan. Anak-anak mampu menghafal berlembar-lembar buku terlebih guna persiapan ujian sekolah. Tetapi punya kesulitan manakala menganalisa atau mengembangkan gagasan berdasarkan bacaannya. Pengalaman buruk terhadap aktifitas membaca membuat seseorang merasa terbebas dari kewajiban membaca ketika lulus sekolah. Pemulihan kondisi ini perlu terapi untuk menjadikan aktifitas membaca menjadi menyenangkan. Selanjutnya punya minat tinggi untuk kontinyu dalam membaca. Dan terapi tersebut bisa diawali dari lingkup terkecil keluarga.

Kepedulian keluarga dimulai dari orang tua dalam memberikan teladan kebiasaan membaca. Didukung dengan memberikan buku yang sesuai dengan usia anak. Dapat pula membuat acara kumpul keluarga dengan tema buku semisal jalan-jalan bersama ke perpustakaan. Jadilah aktifitas membaca sebagai alternatif hiburan dan hobi bermanfaat. Ada beragam buku yang memiliki konten menghibur seperti komik, fiksi, atau essay human interest. Menurut penelitian yang dilakukan pada sukarelawan Mildlab Internasional di University of Sussex, Brighton, Inggris bahwa membaca mengurangi stres hingga 68 persen sebagaimana diungkapkan oleh Dr. David Lewis, kognitif neuropsikolog. Sangat efektif dibanding bermain video games yang hanya menurunkan 21 persen tingkat stres.

Baca Juga :   Gelombang Populisme Politik

Cukup banyak komunitas literasi yang punya aktifitas seputar perbukuan seperti bedah buku, resensi buku, bincang buku hingga arisan buku. Kegiatanpun dikonsep secara kreatif hingga tidak ada kesan ‘jadul’ bagi penggemar buku.

Pemerintah sejak tahun  1995 telah mencanangkan gerakan bulan gemar membaca yang bersamaan dengan ditetapkannya tanggal 14 September sebagai hari gemar membaca dan kunjung perpustakaan. Diharapkan dengan gerakan ini dapat memaksimalkan perpustakaan sebagai salah satu institusi penyedia fasilitas buku. Secara swadaya, masyarakat turut berperan aktif dengan mendirikan taman bacaan masyarakat atau sudut baca yang menjangkau daerah-daerah yang sulit untuk mengunjungi perpustakaan kota.

Ketika aktifitas membaca telah menjadi kebiasaan harian dan mentradisi tentu saja bangsa Indonesia bisa membantah hasil penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University dan dilansir The World Most Literate Nations (WMLN) pada beberapa bulan lalu. Hasil penelitian tersebut menempatkan Indonesia diposisi 60 dari 61 negara tingkat literasi.***

Penulis adalah Pengelola Rumah Baca Al-Ghazi

Hendri Zainuddin, Anggota DPD RI asal Provinsi Sumatera Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here